blog ekonomi syariah zakat wakaf kawafi
RSS icon Email icon Home icon
  • Makalah LKS “Asuransi Syariah” FSH PS IVB

    Posted on April 7th, 2009 Dr. Hendra Kholid, MA No comments

    ASURANSI SYARIAH

    Makalah Ini Diajukan Untuk Mata Kuliah Lembaga Keuangan Syariah Non Bank

    Dosen pembimbing: DR.Hendra Kholid,M.Ag

    Oleh:

    Soraya

    Irwan Sofyan

    Azzah Nurlaila

    PS IV B

    PROGRAM STUDI MUAMALAT

    KONSENTRASI PERBANKAN SYARIAH

    FAKULTAS SYARIAH & HUKUM

    UNIVERSITAS ISLAM SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

    2009 M/1430 H

    DAFTAR ISI

    HALAMAN JUDUL……………………………………………………………………………………….1

    DAFTAR ISI………………………………………………………………………………………………….2

    BAB I Pendahuluan………………………………………………………………………………3

    BAB II PEMBAHASAN

    Pengertian, Dasar Hukum, Sejarah Dan Tujuan Berdiri…………………….4

    Perbedaan Asuransi Syariah Dan Konvensional……………………………….6

    Berbagai Produk Dan Mekanisme Operasional…………………………………8

    Peraturan Hukum Terkait Dengan Asuransi…………………………………….16

    Perkembangan Dan Pertumbuhan Asuransi Syariah Di Indonesia………18

    Dampak Perkembangan Asuransi Terhadap Perekonomian umat……….20

    Prospek, Kendala Dan Strategi Pengembangannya……………………………21

    BAB III PENUTUP……………………………………………………………………………………23

    DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………………………………………………24

    BAB I

    PENDAHULUAN

    Konsep agama Islam terdapat suatu terminologi yang membedakan hubungan manusia dengan Tuhan (hablum minallah) dan hubungan manusia dengan sesamanya (hablum minannas). Bentuk perwujudan hubungan antara manusia dengan Tuhan tertuang dalam bentuk ibadah. Sedangkan bentuk hubungan manusia dengan sesamanya terwujud dalam bentuk muamalah, termasuk didalamnya usaha perasuransian dapat digolongkan dalam bentuk hukum-hukum muamalah.

    Pengertian asuransi dalam konteks perusahaan asuransi menurut syariah atau asuransi Islam secara umum sebenarnya tidak jauh berbeda dengan asuransi konvensional. Diantara keduanya, baik asuransi konvensional maupun asuransi syariah mempunyai persamaan yaitu perusahaan asuransi berfungsi sebagai fasilitator hubungan struktural antara penyetor premi (tertanggung) dengan peserta penerima pembayaran klaim (tertanggung). Secara umum asuransi Islam atau sering diistilahkan dengan takaful dapat digambarkan sebagai asuransi yang prinsip operasionalnya didasarkan pada syariat Islam dengan mengacu kepada Al-Quran dan As-Sunah.1 Istilah takaful dalam bahasa Arab adalah Takaful. Kata takaful tidak dijumpai dalam Al-Quran, namun demikian ada sejumlah kata yang seakar dengan kata takaful, seperti misalnya dalam QS. Thaha (20): ”… hal adullukum ’ala man yakfuluhu…”. Yang artinya ”… bolehkah saya menunjukkan kepadamu orang yang akan memeliharanya?…”2. Takaful dalam pengertian muamalah berarti mengandung risiko diantara sesama manusia sehingga diantara satu dengan lainnya menjadi penanggung atas risiko masing-masing. Dengan demikian, gagasan mengenai asuransi takaful berkaitan dengan unsur saling menanggung risiko diantara para peserta asuransi, dimana peserta yang satu menjadi penanggung peserta yang lainnya.3

    BAB II

    PEMBAHASAN

    1. PENGERTIAN, DASAR HUKUM, SEJARAH DAN TUJUAN BERDIRI

    Secara umum, pengertian asuransi dapat dilihat pada pasal 246 Kitab Undang-Undang Hukum Dagang. Dalam undang-undang tersebut disebutkan bahwa yang dimaksud dengan asuransi atau pertanggungan adalah “suatu perjanjian yang dengan perjanjian tersebut penanggung mengikatkan diri kepada seseorang tertanggung untuk memberikan penggantian kepadanya karena suatu kerugian, kerusakan atau kehilangan keuntungan yang diharapkan yang mungkin dideritanya karena suatu peristiwa yang tidak tertentu”.4

    Dalam pengertian tersebut bisa dipahami bahwa dalam asuransi terdapat empat unsur yang harus ada. Pertama, perjanjian yang mendasari terbentuknya perikatan antara dua pihak yang sekaligus terjadinya hubungan muamalah. Kedua, premi berupa sejumlah uang yang sanggup dibayarkan oleh tertanggung kepada penanggung. Ketiga, adanya ganti rugi dari penanggung kepada tertanggung jika terjadi klaim atau masa perjanjian selesai. Keempat, adanya suatu peristiwa yang tidak tertentu,yaitu suatu resiko yang mungkin akan datang atau tidak ada resiko.

    Menurut Fuad Mohd Fachruddin, asuransi itu pada hakikatnya adalah perjanjian peruntungan.5 Peruntungan yang dimaksud disini bahwa peristiwa yang akan terjadi itu belum menentu dan belum diketahui secara pasti, baik oleh perusahaan asuransi maupun oleh peserta asuransi itu sendiri. Jika peristiwa itu telah diketahui sebelumnya atau setidaknya direncanakan, khususnya oleh peserta, maka bagi perusahaan asuransi sebagai asurator tidak berkewajiban untuk menunaikan kewajibannya.

    Asuransi yaitu suatu usaha yang berdasarkan prinsip tolong menolong dan saling melindungi diantara sejumlah orang melalui investasi dalam bentuk aset/ tabarru’ melalui akad sesuai dengan prinsip syariah. Asuransi disebut pula takaful, ta’min, atau tadhamun.

    Adapun dalil yang menjadi landasan hukum asuransi syariah adalah:

    1. QS al-Hasyr [59]: 18:

    Artinya:

    Orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

    1. QS al Maidah [5]: 2:

    Artinya:

    “… Dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya. “

    1. Hadis Riwayat Imam Muslim dari Abu Hurairah:

    Artinya:

    Orang yang melepaskan seorang Muslim dari kesulitan-nya di dunia, Allah akan melepaskan kesulitannya di hari kiamat; dan Allah senantiasa menolong hamba-hamba-Nya selama dia (suka) menolong saudaranya.”

    Asuransi syariah terlahir karena adanya keraguan umat Islam terhadap kehalalan asuransi konvensional yang selama ini bergulir atas unsur ketidakjelasan (gharar), jahalah (ketidaktahuan), judi (maysir), dan bunga (riba). Unsur gharar terletak pada ketidakpastian tentang hak pemegang polis dan sumber dana yang dipakai untuk menutup klaim. Unsur maysir terlihat ketika satu pihak membayar sedikit harta untuk berharap mendapat harta lebih banyak, dengan cara untung-untungan/ tanpa pekerjaan. Unsur riba terlihat pada perolehan pendapatan dari membungakan uang, contohnya ketika seseorang yang memberi polis asuransi membayar sejumlah kecil premi dengan harapan dapat uang lebih banyak dimasa datang. Pada hakikatnya transaksi semacam ini adalah tukar menukar uang dengan adanya tambahan dari uang yang dibayarkan, ini jelas mengandung riba. Dengan adanya keraguan tersebut, maka sebagian umat Islam memandang bahwa transaksi dalam Asuransi Konvensional tidak sesuai dengan syara’ dan termasuk transaksi yang diharamkan.

    Pernyataan serupa yang dikumandangkan di Malaysia. Jawatan Kuasa Fatwa Malaysia tanggal 15 Juni 1972 mengeluarkan keputusan yang menetapkan bahwa praktek asuransi jiwa di Malaysia hukumnya menurut Islam adalah haram. Selain itu, Jawatan Kuasa Kecil Malaysia dalam kertas kerjanya yang berjudul “Ke Arah Insurans secara Islami di Malaysia” menyatakan bahwa asuransi masa kini mengikuti cara pengelolaan Barat dan sebagian operasinya tidak sesuai dengan syariat.6

    Atas landasan itulah, maka telah dirumuskan untuk pembentukan asuransi yang terhindar dari unsur yang diharamkan itu. Berdasarkan hasil analisa ternyata telah ditemukan bahwa dalam islam terdapat substansi perasuransian. Asuransi yang temuat dalam hukum Islam itu ternyata menghindarkan prinsip operasional asuransi dari unsur gharar, riba dan maysir. Pada decade 70-an di beberapa Negara Islam atau Negara-negara yang mayoritas penduduknya agama Islam telah bermunculan asuransi berdasarkan nilai-nilai Islam. Pada tahun 1979 berdiri Islamic Insurance Co. Ltd. Di Sudan dan Islamic Insurance Co. Ltd. di Arab Saudi. Pada tahun 1983 berdiri pula Dar al-maal al-Islami di Genewa dan Takaful Islam di Luxemburg, Takaful Islam Bahamas di Bahamas, dan al-Takaful al-Islami di Bahrain.7Munculnya asuransi syariah pertama kali di Indonesia tidak lepas dari nama asuransi takaful yang dibentuk oleh holding company PT Syarikat Takaful Indonesia (STI) pada tahun 1994. Pembentukan awal takaful disponsori oleh yayasan Abdi Bangsa, Bank Mamalat Indonesia dan Asuransi Jiwa Tugu Mandiri. Saat itu para wakil dari 3 lembaga ini membentuk tim pembentukan asuransi takaful Indonesia/TEPATI, yang dipimpin oleh Direktur utama PT STI, Rahmat Saleh. Sebagian langkah awal 5 orang anggota TEPATI melakukan studi banding ke Malaysia pada September 1993. Malaysia memang merupakan Negara ASEAN pertama yang menerapkan asuransi berdasarkan prinsip syariah sejak tahun 1985. Di Negara ini asuransi dikelola oleh Syarikat Takaful Malaysia. Pada berikutnya STI mendirikan PT asuransi Takaful umum dan PT asuransi Takaful Keluarga. Secara resmi, PT Asuransi Takaful Keluarga didirikan pada 2 Juni 1985. Setelah asuransi takaful umum dibuka, selanjutnya sejumlah lembaga ikut mendirikan asuransi syariah Mubarakah, asuransi syariah Asih Great Eastern, MAA Life Insurance, Asuransi Bringin Jiwa Sejahtera.

    Tujuan berdirinya Lembaga asuransi syariah ini adalah saling tolong menolong untuk menghadapi mara bahaya dan musibah yang terkadang menimpa sebagian orang dengan cara menggantinya dari uang yang telah dikumpulkan dari hasil premi, bukan untuk mencari keuntungan atau menjadikan lahan untuk mencari penghasilan. Itu karena prinsip- prinsip dasar syariat yang toleran mengajak kepada setiap sesuatu yang berakibat keeratan jalinan sesama manusia dan kepada sesuatu yang meringankan bencana mereka. Islam juga mengarah kepada berdirinya sebuah masyarakat yang tegak diatas azas saling membantu dan saling menopang, karena setiap muslim kepada muslim lainnya bagai bangunan yang saling menguatkan sebagian kepada sebagian yang lain.

    1. PERBEDAAN ASURANSI SYARIAH DAN KONVENSIONAL

    Sebagai sebuah asuransi yang digali dari prinsip- prinsip islam, maka asuransi takaful memiliki karakteristik tertentu. Diantaranya:

    1. Akad yang dilakukan adalah akad al-takafuli. Jadi tujuan utama asuransi syariah bukanlah untuk mencari keuntungan yang sebanyak – banyaknya melainkan untuk memupuk rasa saling tolong menolong. Prinsip ini terdapat dalam surah Al-Maidah ayat 2, yang artinya:”Dan tolong menolonglah dalam kebajikan dan ketakwaan dan jangan tolong menolonglah dalam dosa dan permusuhan.” Kejelasan kontrak/akad menentukan sah tidaknya secara syariah. Pada karakteristik yang pertama ini mengandung arti bahwa akad yang digunakan didalam pelaksanaan asuransi bukan akad tabaduli’ (saling mengganti atau saling menukar), sebagaimana yang dibuat dalam asuransi konvensional. Dalam akad tabaduli yang digunakan asuransi konvensional terjadi penukaran antara pembayaran premi yang disetorkan peserta asuransi dengan pembayaran klaim yang diserahkan perusahaan asuransi. Salah satu syarat sah akad tabaduli adalah adanya kejelasan tentang berapa yang akan dibayarkan dan berapa yang akan diterima. Ketidakjelasan persoalan besarnya premi yang harus dibayarkan karena tergantung terhadap usia peserta yang mana hanya Allah yang tahu kapan kita meninggal. Inilah yang mengakibatkan asuransi konvensional mengandung apa yang disebut gharar.

    2. Adanya tabungan tabarru’ (derma). Dalam asuransi takaful, khususnya dalam asuransi takaful keluarga, sejak awal peserta diberitahu bahwa tabungan (premi) yang disetornya akan disisihkan sebagian untuk tabungan tabarru’. Tabungan yang akan disetor peserta akan dipilah menjadi dua, yaitu tabungan peserta dan tabungan derma. Tabungan peserta adalah tabungan yang diberikan kembali kepada nasabah disaat masa kontrak habis/ tertimpa musibah atau mengundurkan diri. Sedangkan tabungan tabarru’ tidak akan kembali lagi kepada nasabah apabila yang bersangkutan mengundurkan diri/masa kontak berakhir. Secara syar’I, adanya tabungan tabarru’ sesungguhnya merupakan realisasi prinsip ta’awun dalam asuransi takaful.8 Hal ini tentunya berbeda dengan asuransi konvensional. Dalam asuransi konvensional tidak dikenal tabungan tabarru’ melainkan semua premi yang disetor peserta disatukan menjadi satu dalam modal milik perusahaan. Pembayaran klaim yang diberikan dalam asuransi konvensional bukan diambil dari tabungan tabarru’ melainkan diambil dari uang yang telah dimiliki perusahaan asuransi.

    3. Dalam asuransi syariah tanggung jawab perusahaan bukanlah sebagai penanggung resiko, jadi perusahaan hanyalah sebagai pihak yang diberi amanah untuk mengelola dana itu karena pijakannya adalah risk sharing. Apabila ada klaim maka penanggungnya adalah seluruh nasabah. Sedangkan dalam asuransi konvensional, tanggung jawab perusahaan adalah sebagai penanggung resiko karena pijakannya adalah risk transfer. Apabila ada klaim maka penanggungnya adalah perusahaan.

    4. Asuransi takaful diterapkan prinsip bagi hasil (mudharabah). Prinsip ini dilakukan pada saat penyerahan premi oleh nasabah kepada perusahaan asuransi. Premi yang disetor peserta oleh pihak perusahaan asuransi disatukan dalam kumpulan dana peserta yang kemudian diinvestasikan kepada investor dengan prinsip bagi hasil. Keuntungan yang diperoleh perusahaan dari investasinya kemudian dibagi lagi dengan peserta pada saat tertimpa musibah, mengundurkan diri atau masa kontrak habis. Ciri ini menandai bahwa asuransi syariah merupakan solusi dari prinsip bunga yang selama ini digunakan oleh asuransi konvensional dalam menginvestasikan dana yang diterimanya yaitu bila untung perusahaan akan dapat bagian yang besar tetapi jika rugi perusahaan hancur karena wajib membayar bunga kepada nasabah.

    5. Pada asuransi syariah adanya DPS yang mengawasi seluruh operasional baik manajemen perusahaan, produk, maupun kebijakan investasi. Dan perusahaan hanya sebagai pengelola / pemegang amanah dari nasabah. Sedangkan dalam konvensional tidak ada pengawasan penggunaan dana nasabah karena dana premi milik perusahaan.

    Tabel perbedaan antara asuransi syariah dan asuransi konvensional

    No

    Asuransi Syariah

    Asuransi Konvensional

    1.

    Akad takaful (tolong-menolong)

    Akad tabadul (jual beli) tetapi salah satu syarat tidak terpenuhi

    2.

    Ada DPS yang mengawasi mekanisme operasionalnya

    Tidak terdapat DPS

    3.

    Investasi berdasarkan bagi hasil (mudharabah)

    Memakai bunga sebagai landasan perhitungan investasinya

    4.

    Kepemilikan dana merupakan hak peserta. Perusahaan hanya sebagai pemegang amanah untuk mengelolanya.

    Dana yang terkumpul dari nasabah (premi) menjadi milik perusahaan. Sehingga, perusahaan bebas menentukan alokasi investasinya.

    5.

    Dalam mekanismenya, tidak mengenal dana hangus seperti yang terdapat pada asuransi konvensional. Jika pada masa kontrak peserta tidak dapat melanjutkan pembayaran premi dan ingin mengundurkan diri sebelum masa reversing period, maka dana yang dimasukan dapat diambil kembali, kecuali sebagian dana kecil yang telah diniatkan untuk tabarru

    Dana hangus jika pada masa kontrak peserta tidak dapat melanjutkan pembayaran premi dan ingin mengundurkan diri.

    6.

    Pembayaran klaim diambil dari rekening Tabarru (dana kebajikan) seluruh peserta antara peserta .

    pembayaran klaim diambilkan dari rekening dana perusahaan.

    Dari uraian diatas tampak jelas bahwa asuransi takaful memiliki karakteristik tersendiri yang membedakannya dengan asuransi konvensional. Karakter – karakter tersebut harus tetap melekat pada asuransi syariah sebab jika salah satu ciri tersebut hilang maka akan menghilangkan identitas dari asuransi syariah itu sendiri.

    1. Produk Asuransi Syariah dan mekanisme operasionalnya

    Dalam asuransi syariah, terdapat dua jenis produk diantaranya:

    Takaful Umum

    Bentuk asuransi takaful yang memberikan layanan dan bantuan menyangkut asuransi di bidang kerugian seperti perlindungan dari kebakaran, pengangkutan, niaga, dan kendaraan bermotor, dengan harapan bisa tercapainya masyarakat Indonesia yang sejahtera dengan perlindungan asuransi yang sesuai Muamalah Syariah Islam. Yang termasuk dalam produk takaful umum antara lain:

    1. Takaful Baituna

    Bentuk asuransi yang memberikan perlindungan rumah dari risiko kebakaran.

    Obyek Asuransi

    • Rumah Tinggal/Apartemen

    • Rumah Tinggal Kantor (Rukan)

    • Rumah Tinggal Toko (Ruko)

    Total Manfaat Takaful

    Total harga obyek asuransi yang meliputi harga bangungan, perabot, stok dan lain-lain.

    Manfaat Utama

    Takaful Baituna memberikan ganti rugi terhadap risiko-risiko yang dijamin dalam Polis Standar Asuransi Kebakaran Indonesia (PSAKI) meliputi:

    • Kebakaran

    • Petir

    • Ledakan

    • Kejatuhan Pesawat Terbang

    • Asap

    Manfaat Tambahan Pilihan

    • Gempa Bumi, Letusan Gunung Berapi, Tsunami

    • Banjir, Angin Topan, Badai, dan Kerusakan akibat air

    • Terorisme, Sabotase

    1. Takaful Surgaina

    Produk Takaful yang memberikan perlindungan terhadap kerugian finansial dan santunan akibat kecelakaan yang mengakibatkan meninggal dunia, menderita cacat badan/biaya pemakaman peserta.

    Lingkup Jaminan

    • Meninggal dunia karena kecelakaan (sesuai paket pilihan).

    • Santunan cacat tetap maksimum sebesar 100% jaminan meninggal dunia karena kecelakaan.

    • Bantuan uang duka untuk meninggal dunia bukan karena kecelakaan.

    • Cash plan untuk rawat inap karena kecelakaan sesuai tabel maksimum 90 hari rawat inap

    1. Takaful Abror

    Produk Takaful yang menggantikan kerugian atas kendaraan bermotor yang disebabkan musibah kecelakaan, pencurian serta tanggung jawab hukum kepada pihak ketiga.

    Kendaraan Bermotor yang diperkenankan:

    • Penggunaan KBM : Pribadi/Dinas

    • Jenis KBM : Sedan, Jip, Station Wagon dan Minibus

    • Usia kendaraan : 0 – 7 tahun

    Prosedur Umum Klaim Kendaraan Bermotor

    • Melaporkan klaim paling lambat 3 x 24 jam (hari kerja) sejak kejadian.

    • Pelaporan dapat secara lisan, via telepon atau via surat, ditujukan pada bagian klaim PT Asuransi Takaful Umum terdekat.

    • Membawa dokumen klaim berupa copy bukti pelunasan premi, copy SIM pengemudi, copy STNK, serta copy Polis Asuransi Kendaraan Bermotor.

    • Untuk kasus yang melibatkan pihak ketiga (TPL) dan kasus pencurian sebagian atau partial loss, harus dilengkapi Ash Laporan Polisi setempat.

    • Dalam kondisi darurat dan kejadian di luar jam kerja, dapat menghubungi Bengkel Rekanan terdekat.

    1. Takaful Rekayasa

    Program Takaful yang mengganti kerugian atas kehilangan atau kerusakan dalam sebuah proyek rekayasa (konstruksi dan/ atau pemasangan), peralatan dan mesin akibat kejadian yang tiba-tiba dan tidak terduga sehingga menyebabkan kerugian kepada Peserta (prinsipal, kontraktor atau pemilik peralatan).

    • Takaful Contractor All Risks

    Program Takaful yang mengganti kerugian atas kehilangan atau kerusakan pekerjaan, konstruksi, peralatan dan atau konstruksi mesin serta tuntutan dari pihak ketiga yang timbul sehubungan dengan pelaksanaan proyek sipil tersebut.

    • Takaful Erection All Risks

    Program Takaful yang mengganti kerugian atas kehilangan atau kerusakan pekerjaan, konstruksi, peralatan dan atau konstruksi mesin serta tuntutan dari pihak ketiga yang timbul sehubungan dengan pelaksanaan proyek pemasangan tersebut.

    • Takaful Mesin

    Program Takaful yang mengganti kerugian atas kerusakan bangunan pabrik, mesin, peralatan mesin dan perlengkapannya dalam suatu wilayah operasi akibat risiko yang timbul secara kebetulan, tidak terduga, tiba-tiba seperti ketidaksempurnaan dalam pencetakan dan material, kesalahan desain, kesalahan di workshop atau dalam pemasangan, cacat dalam pengerjaan, ceroboh, kurang/ tidak trampil, kekurangan air dalam boiler, ledakan secara fisik, robek secara terpisah karena gaya sentrifugal, arus pendek, badai atau sebab lain yang tidak dikecualikan dalam polis.

    • Takaful Electronic Equipment

    Program Takaful yang mengganti kerugian atas kerusakan, kehilangan, atau kehancuran materi dari sistem listrik atau peralatan elektronik akibat risiko yang timbul secara kebetulan, tidak terduga dan tiba-tiba seperti kebakaran, kebongkaran, asap, petir, arus pendek, kerusakan air dan oleh sebab lain yang tidak dikecualikan dalam polis serta media data dan penambahan biaya yang timbul akibat kerusakan materi untuk menghindari terhentinya bisnis.

    1. Takaful Aneka

    Program Takaful yang menggantikan kerugian atas berbagai macam resiko

    Takaful Kecelakaan Diri (Takaful Personal Accident):

    Asuransi yang memberikan uang santunan dan biaya perawatan terhadap peserta yang mengalami kecelakaan.

    Takaful Penyimpanan/ Pengangkutan Uang:

    Asuransi yang memberikan perlindungan terhadap resiko-risiko yang dapat menyebabkan kehilangan/kerugian uang dalam brankas (safe box) atau selama pengangkutan.

    Takaful All Risk:

    Asuransi yang memberikan perlindungan terhadap resiko-resiko yang dapat menyebabkan kehilangan/kerugian peralatan perkantoran seperti furniture, komputer, lap top dll.

    Takaful Kebongkaran:

    Asuransi yang memberikan perlindungan terhadap resiko kebongkaran yang menyebabkan kehilangan/ kerugian harta benda dalam lokasi tertentu.

    Takaful Alat Berat (Takaful Heavy Equipment):

    Asuransi yang memberikan perlindungan terhadap resiko-resiko yang dapat menyebabkan kehilangan/ kerugian alat berat yang sedang dipergunakan seperti Traktor, Buldozer, Crane dll

    Takaful Tanggung Gugat Pihak ke III (Takaful Liability ):

    Asuransi yang memberikan perlindungan kepada peserta terhadap tuntutan ganti rugi dari pihak ketiga yang timbul sebagai kesalahan/kelalaian aktivitas peserta yang menyebabkan pihak ketiga mengalami kerugian harta benda ( Property Damage ) maupun kecelakaan diri ( Bodily Injury ).

    1. Takaful Kebakaran

    Program Takaful yang mengganti kerugian atas kerusakan atau kehilangan bangunan.

    Risiko Tambahan

    • Kerusakan akibat kerusuhan, pemogokan dan perbuatan jahat

    • Huru-hara

    • Tertabrak kendaraan

    • Angin topan, badai, banjir dan kerusakan karena air

    • Biaya pembersihan

    • Tanah longsor

    • Risiko tambahan lainnya (seperti gempa bumi, teroris dan sabotase disediakan dengan ketentuan polis sendiri.

    1. Takaful Pengangkutan dan Rangka Kapal

    Program Takaful yang mengganti kerugian pada barang atau alat pengangkutan selama dalam pengangkutan.

    Takaful Pengangkutan

    Program Takaful yang mengganti kerugian, kerusakan atau kehilangan obyek asuransi selama dalam pengangkutan dari tempat asal sampai ke tempat tujuan. Risiko-risiko yang dapat dijamin dalam Takaful Pengangkutan seperti: kebakaran, peledakan, kapal atau alat angkut kandas, terdampar, tergelincir, atau terbalik dan lain-lain sebagaimana yang diatur dalam polis Takaful Pengangkutan. Takaful Pengangkutan memberikan bermacam-macam program sesuai dengan jenis pengangkutan:

    • Takaful Pengangkutan Laut

    • Takaful Pengangkutan Darat

    • Takaful Pengangkutan Udara

    • Takaful Pengangkutan Antar Pulau

    Takaful Rangka Kapal

    Program Takaful yang mengganti kerugian atas risiko kehilangan atau kerusakan: rangka kapal dan atau mesinnya, freight (uang tambahan), disbursement selama dalam pengoperasian kapal tersebut.

    1. Takaful Kendaraan Bermotor

    Program Takaful yang mengganti kerugian baik kehilangan atau kerusakan secara menyeluruh dan tuntutan pihak ketiga atas setiap kendaraan bermotor yang terdaftar akibat risiko-risiko seperti tabrakan, tubrukan, terbalik, tergelincir dari jalan, kecelakaan baik yang dibebakan oleh kesalahan material atau konstruksi perbuatan orang jahat, pencurian, kebakaran dan sebab lainnya yang diatur sebagaimana dalam Polis Standar Kendaraan Bermotor Indonesia. Jenis kendaraan bermotor yang dapat diasuransikan:

    • Kendaraan Bermotor Pengangkutan Penumpang (Sedan, Jeep, Landrover, Station Wagon, dan sejenisnya)

    • Kendaraan Pengangkut Barang

    • Bus Umum

    • Sepeda Motor

    1. Takaful Surety Bond

    Program Takaful yang mengganti kerugian pelaksanaan proyek kontraktor

    TAKAFUL KELUARGA

    Layanan Individual

    Sarana berinvestasi sekaligus berasuransi sesuai Syariah.

    Pilihan Investasi:

    Takaful Dana Istiqomah

    Pada pilihan ini seluruh dana akan ditempatkan pada instrumen investasi berpendapatan tetap.

    Takaful Dana Mizan

    Menawarkan cara berinvestasi dengan hasil yang optimal dan risiko yang moderat. Pada pilihan ini sebagian dana akan ditempatkan pada instrumen investasi berpendapatan tetap dan sebagian lainnya pada saham.

    • Takaful kecelakaan diri

    Program Takaful yang memberikan santunan kepada peserta atau ahli warisnya bila peserta meninggal dunia, cacat, atau mengeluarkan biaya perawatan akibat kecelakaan

    Tabel Santunan Cacat Tetap

    1

    Lengan kanan mulai dari sendi bahu

    75%

    Lengan kiri mulai dari sendi bahu

    65%

    2

    Lengan kanan mulai dari atas sendi siku ke bawah

    65%

    Lengan kiri mulai dari atas sendi siku ke bawah

    55%

    3

    Tangan kanan mulai dari pergelangan tangan ke bawah

    60%

    Tangan kiri mulai dari atasnya pergelangan tangan ke bawah

    50%

    4

    Satu kaki mulai dari pangkal paha atau dari pergelangan kaki

    50%

    5

    Ibu jari tangan kanan

    25%

    Ibu jari tangan kiri

    20%

    6

    Jari telunjuk tangan kanan

    15%

    Jari telunjuk tangan kiri

    12%

    7

    Jari kelingking tangan kanan

    9%

    Jari kelingking tangan kiri

    7%

    8

    Jari tengah atau jari manis tangan kanan

    11%

    Jari tengah atau jari manis tangan kiri

    9%

    9

    Satu jari kaki

    5%

    10

    Satu jari kaki lainnya

    3%

    11

    Kedua belah mata

    100%

    12

    Sebelah mata

    30%

    13

    Pendengaran pada kedua belah telinga

    50%

    Pendengaran pada sebelah telinga

    20%

    14

    Hilangnya akal budi

    100%

    Sumber takaful Indonesia

    • Fulnadi

    Program Takaful yang menyediakan dana pendidikan untuk putra-putri sampai sarjana.

    • Takafulink alia

    Bentuk takaful dengan jenis investasi campuran bagi yang menginginkan hasil investasi optimal dengan jenis investasi campuran melalui sistem pengelolaan syariah.

    • Takafulink ukhuwah

    Bentuk takaful dengan premi terjangkau sekaligus menolong Ummah.

    Layanan Group/Kumpulan

    Takaful ordinary:

    • Takaful al-khairat

    Program Takaful Al-Khairat adalah suatu bentuk perlindungan kumpulan yang diperuntukkan kepada ahliwarisnya apabila yang bersangkutan ditakdirkan meninggal dalam masa perjanjian.

    Manfaat

    • Bila Peserta ditakdirkan meninggal masa perjanjian, maka ahliwarisnya akan mendapatkan dana santunan meninggal dari Asuransi Takaful Keluarga sesuai dengan jumlah yang direncanakan Peserta.

    • Bila Peserta hidup sampai perjanjian berakhir, maka Peserta akan mendapatkan bagian keuntungan atas Rekening Khusus/Tabarru’

    Ketentuan

    • Usia masuk maksimal 60 tahun

    • Usia masuk + Masa Perjanjian maksimal 65 tahun

    • Jumlah Peserta minimal 25 orang

    • Manfaat Takaful dapat disesuaikan dengan permintaan.

    • Minimal premi untuk tiap kumpulan Rp 500.000,-

    • Takaful kecelakaan diri

    Program Takaful Kecelakaan Diri Kumpulan adalah suatu bentuk perlindungan kumpulan yang ditujukan untuk perusahaan, organisasi atau perkumpulan yang bermaksud menyediakan santunan kepada karyawan/anggota apabila mengalami musibah karena kecelakaan dalam masa perjanjian.

    • Takaful kecelakaan siswa

    Program Takaful Kecelakaan Siswa adalah suatu bentuk perlindungan kumpulan yang ditujukan kepada Sekolah/Perguruan Tinggi atau Lembaga Pendidikan Non Formal yang bermaksud menyediakan santunan kepada siswa/mahasiswa atau pesertanya apabila mengalami musibah karena kecelakaan yang mengakibatkan cacat tetap total maupun sebagian atau meninggal.

    Manfaat

    • Bila Peserta mengalami musibah kecelakaan dalam masa perjanjian yang mengakibatkan peserta cacat tetap total atau sebagian maka kepada peserta akan diberikan manfaat takaful sesuai dengan persentasi yang sudah ditentukan.

    • Bila Peserta ditakdirkan meninggal dalam masa perjanjian karena suatu kecelakaan, maka kepada ahliwarisnya akan dibayarkan dana santunan meninggal sebesar Manfaat Takaful yang direncanakan.

    • Bila semua peserta hidup sampai perjanjian berakhir, maka Peserta akan mendapatkan bagian keuntungan atas Rekening Khusus/Tabarru.

    Ketentuan

    • Jumlah Peserta minimal 25 orang

    • Manfaat Takaful dapat disesuaikan dengan permintaan.

    • Minimal premi untuk tiap kumpulan Rp 250.000,-

    • Biaya Pengelolaan 30% dari Premi.

    • Takaful wisata dan perjalanan

    Program Takaful Wisata & Perjalanan adalah program yang diperuntukkan bagi Biro Perjalanan dan Wisata/Travel yang berkeinginan memberikan perlindungan kepada pesertanya apabila mengalami musibah karena kecelakaan yang mengakibatkan cacat tetap total, sebagian atau meninggal selama wisata maupun perjalanan dalam dan luar negeri.

    Manfaat

    • Bila Peserta mengalami musibah kecelakaan selama wisata maupun perjalanan yang mengakibatkan peserta :

    luka dan memerlukan perawatan dokter/rumah sakit, maka biaya perawatan tersebut akan diganti oleh Asuransi Takaful yang besarnya sudah ditentukan sebelumnya.

    mengalami cacat tetap total atau sebagian, maka kepada peserta akan diberikan manfaat takaful sesuai dengan presentasi yang sudah ditentukan.

    ditakdirkan meninggal, maka kepada ahliwarisnya akan diberikan santunan meninggal sebesar Manfaat Takaful yang direncanakan.

    • Bila semua peserta dari kumpulan tersebut tidak ada yang klaim (tidak mengalami kecelakaan yang menyebabkan pengajuan biaya perawatan untuk yang mengambil perawatan, cacat tetap total, sebagian atau meninggal) sampai perjanjian berakhir, maka peserta akan mendapatkan bagian keuntungan atas rekening khusus/tabarru’ yang ditentukan oleh Asuransi Takaful Keluarga, jika ada.

    Takaful Banka Assurance:

    Takaful Pembiayaan

    Program Takaful Pembiayaan adalah suatu bentuk perlindungan asuransi yang memberikan Manfaat Takaful yaitu berupa jaminan pelunasan hutang apabila yang bersangkutan ditakdirkan meninggal dalam masa perjanjian.

    Manfaat

    • Bila Peserta ditakdirkan meninggal dalam masa perjanjian, maka sisa pinjaman yang belum dibayar menjadi kewajiban lembaga asuransi.

    • Bila Peserta hidup sampai perjanjian berakhir, maka Peserta akan mendapatkan bagian keuntungan atas Rekening Khusus/Tabarru’

    Takaful Kesehatan:

    • Fulmedicare

    Adalah Program Asuransi Kesehatan yang memberikan manfaat pelayanan kesehatan bagi peserta yang mengalami sakit karena resiko penyakit atau kecelakaan.

    Keistimewaan FulMedicare

    • Pelayanan Rawat Inap di Rumah Sakit Rekanan (Profider)

    • Penyakit yang sudah ada dijamin

    • Bagi hasil di akhir periode kepesertaan

    • Memberikan perlindungan selama 24 jam sehari

    Syarat Kepesertaan

    • Karyawan tetap dan atau beserta keluarganya (Istri/ Suami dan Anak Karyawan)

    • Pada saat didaftarkan calon peserta berusia minimal 15 hari dan maksimal 55 tahun

    • Pada saat didaftarkan tidak sedang menjalani rawat inap di rumah sakit manapun

    • Takaful family care

    Program Takaful Kesehatan Kumpulan untuk karyawan beserta keluarga.

    Manfaat Takaful

    • Dana Tunai Harian
      Pemberian Dana Tunai Harian selama Peserta menjalani rawat inap di rumah sakit. Karena sakit atau kecelakaan

    • Santunan Kematian
      Pemberian santunan bila Peserta meninggal karena sakit atau kecelakaan

    • Santunan Cacat Tetap Total
      Pemberian santunan bila Peserta mengalami Cacat Tetap Total karena sakit atau kecelakaan sehingga tidak dapat melaksanakan pekerjaan, memegang jabatan atau profesi apapun untuk memperoleh penghasilan

    Tabel Manfaat & Premi Takaful Family Care (Rupiah)

    Manfaat Takaful Per Tahun

    FC-100

    FC-200

    FC-300

    FC-400

    FC-500

    Santunan Dana Tunai Harian

    Bila dirawat di ruang non ICU (Maksimal 360 hari)

    100.000

    200.000

    300.000

    400.000

    500.000

    Bila dirawat di ruang ICU (Maksimal 15 hari)

    200.000

    400.000

    600.000

    800.000

    1.000.000

    Santunan Kematian karena sakit

    5.000.000

    10..000.000

    15..000.000

    20..000.000

    25..000.000

    Santunan Kematian karena kecelakaan

    10..000.000

    20..000.000

    30..000.000

    40..000.000

    50..000.000

    Santunan Cacat Tetap Total

    5.000.000

    10.000.000

    15.000.000

    20.000.000

    25.000.000

    Premi Tahunan Per Orang

    FC-100

    FC-200

    FC-300

    FC-400

    FC-500

    Dewasa (usia maksimal saat masuk 55 tahun)

    175.000

    345.000

    515.000

    685.000

    855.000

    Anak (usia saat masuk 12 bulan s.d. 17 tahun)

    90.000

    175.000

    260.000

    345.000

    430.000

    Sumber takaful Indonesia.com

    Takaful Co-Branding

    • Takaful safari

    Bentuk takaful yang memberikan perlindungan di perjalanan.

    • Fulprotek

    Kartu investasi berasuransi yang dikelola secara murni syariah dengan bagi hasil menguntungkan.

    Mekanisme Pengelolaan Dana Asuransi Syariah

    Dalam pengelolaan dana Takaful Keluarga setiap Premi takaful yang dibayar dimasukkan ke dalam dua rekening, yaitu rekening derma/tabarru’. Rekening tabungan adalah rekening tabungan peserta dan rekening tabarru’ adalah kumpulan dana yang akan digunakan untuk membayar klaim kepada ahli waris, jika peserta meninggal dunia sebelum pertanggungan berakhir. Penyisihan premi yang disetor peserta kepada Rekening Derma prosentasenya ditentukan sesuai dengan kelompok peserta Asuransi Takaful dan jangka waktu pertanggungan.

    Dalam asuransi takaful umum seluruh premi yang dibayar peserta dimasukkan ke dalam rekening “derma”, yaitu rekening yang digunakan untuk membayar klaim kepada peserta. Besarnya nominal premi yang disetor bergantung kepada jenis takaful yang dipilih. Kemudian uang angsuran premi takaful yang disetor itu akan dimasukkan ke dalam “kumpulan Dana Peserta” untuk diinvestasikan pada proyek-proyek atau pembiayaan-pembiayaan yang sesuai dengan syariah. Keuntungan yang diperoleh dari investasi itu akan dimasukkan kembali ke dalam Kumpulan Dana Peserta.

    Pembayaran premi oleh peserta dapat dilakukan secara bulanan, kwartalan, setengah tahunan, atau tahunan. Sedangkan besarnya nominal premi yang disetor peserta disesuaikan dengan kemampuannya, tetapi tidak boleh kurang dari jumlah minimal yang ditetapkan oleh perusahaan Asuransi Takaful. Semua angsuran premi itu kemudian dimasukkan ke dalam “Kumpulan Dana Peserta” untuk diinvestasikan ke dalam pembiayaan-pembiayaan proyek yang dibenarkan berdasarkan syara’. Keuntungan yang diperoleh dari investasi itu sebagian akan dimasukkan kedalam rekening Tabungan dan sebagian lagi ke dalam Rekening Derma secara proporsional.

    1. PERATURAN HUKUM TERKAIT DENGAN ASURANSI

    Dari segi hukum positif, hingga saat ini asuransi syariah masih mendasarkan legalitasnya pada UU No. 2 Tahun 1992 tentang Usaha Perasuransian yang sebenarnya kurang mengakomodasi asuransi syariah di Indonesia karena tidak mengatur mengenai keberadaan asuransi berdasarkan prinsip syariah. Dalam menjalankan usahanya, perusahaan asuransi dan reasuransi syariah masih menggunakan pedoman yang dikeluarkan oleh Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia No. 21/DSN-MUI/X/2001 karena regulasi yang ada tidak dapat dijadikan pedoman untuk menjalankan asuransi syariah. Fatwa dari DSN tidak mempunyai kekuatan hukum dalam hukum nasional karena tidak termasuk dalam jenis peraturan perundang-undangan di Indonesia. Agar ketentuan dalam Fatwa DSN tersebut memiliki kekuatan hukum, maka perlu dibentuk peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan pedoman asuransi syariah.

    Adapun peraturan perundang-undangan yang telah dikeluarkan pemerintah berkaitan dengan asuransi syariah yaitu:

    1. Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 426/ KMK.06/2003 tentang Perizinan Usaha dan Kelembagaan Perusahaan Asuransi dan Perusahaan Reasuransi. Peraturan inilah yang dijadikan dasar untuk mendirikan asuransi syariah sebagaimana ketentuan dalam pasal 3 yang menyebutkan bahwa “ Ketentuan yang berkaitan dengan asuransi syariah tercantum dalam pasal 3-4 mengenai persyaratan dan tata cara memperoleh izin usaha perusahaan asuransi dan perusahaan reasuransi dengan prinsip syariah, Pasal 32 mengenai pembukaan kantor cabang dengan prinsip syariah dari perusahaan asuransi dan perusahaan reasuransi konvensional, dan pasal 33 mengenai pembukaan kantor cabang dengan prinsip syariah dari perusahaan asuransi dan perusahaan reasuransi dengan prinsip syariah.

    2. Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 424/KMK.06/2003 tentang Kesehatan Perusahaan Asuransi dan Perusahaan Reasuransi. Ketentuan yang berkaitan dengan asuransi syariah tercantum dalam pasal 15-18 mengenai kekayaan yang diperkenankan harus dimiliki dan dikuasai oleh perusahaan asuransi dan perusahaan reasuransi dengan prinsip syariah.

    3. Keputusan Direktur Jenderal Keuangan Nomor Kep. 4499/LK/2000 tentang jenis, Penilaian dan Pembatasan Investasi Perusahaan Asuransi dan Perusahaan Reasuransi dengan sistem syariah. Berdasarkan peraturan ini, jenis investasi bagi perusahaan asuransi dan perusahaan reasuransi dengan prinsip syariah terdiri dari:

    • Deposito dan sertifikat deposito syariah

    • Sertifikat Wadiah Bank Indonesia

    • Saham syariah yang tercatat di bursa efek

    • Obligasi syariah yang tercatat di bursa efek

    • Surat berharga syariah yang diterbitkan atau dijamin oleh pemerintah

    • Unit penyertaan reksadana syariah

    • Pembiayaan kepemilikan tanah/bangunan, kendaraan bermotor dan barang modal dengan skema murabahah (jual beli dengan pembayaran ditangguhkan)

    • Pembiayaan modal kerja dengan skema mudharabah (bagi hasil)

    1. Kitab Undang-undang Hukum Perdata

    Ketentuan mengenai kegiatan asuransi dalam KUH Perdata, diatur dalam Bab Kelima Belas tentang Perjanjian Untung-untungan, pada bagian kesatu tentang ketentuan umum, yaitu pada pasal 1774 KUH Perdata. Dalam pasal ini, kegiatan asuransi diistilahkan dengan pertanggungan. Adapun bunyi dari Pasal 1774 KUH Perdata adalah:

    Suatu perjanjian untung-untungan adalah suatu perbuatan yang hasilnya, mengenai untung-ruginya, baik bagi semua pihak, maupun sementara pihak, bergantung pada suatu kejadian yang belum tentu.

    Jika dilihat dari pasal tersebut, maka perjanjian pertanggungan dapat dikategorikan dalam kelompok Perjanjian Untung-untungan. Untuk asuransi syariah, Pasal 1774 KUH Perdata tidak dapat dijadikan dasar hukum karena didalamnya terdapat unsur maysir yaitu adanya unsur untung-rugi yang digantungkan pada kejadian yang belum tentu. Asuransi syariah tidak didasarka untung-rugi tapi didasarkan konsep tanggung jawab dan tolong-menolong.

    1. Kitab Undang-Undang Hukum Dagang (KUHD)

    Definisi asuransi dalam KUHD terdapat dalam Bab Kesembilan tentang asuransi atau pertanggungan umumnya yaitu pada Pasal 246 yang berbunyi:

    Asuransi atau pertanggungan adalah suatu perjanjian, dimana seorang penanggung mengikatkan diri kepada seorang tertanggung, dengan menerima suatu premi, untuk memberikan pergantian kepadanya karena suatu kerugian, kerusakan, atau kehilangan keuntungan yang diharapkannya karena suatu peristiwa tidak tertentu.

    Dari definisi tersebut dapat disimpulkan:

    1. Pihak pertama sebagai yang ditanggung, mengalihkan beban atau risikonya kepada pihak penanggung.

    2. Pihak yang ditanggung membeli hak untuk menerima ganti rugi, atau jaminan dari yang menjualnya yaitu pihak penanggung menerima sejumlah uang yang disebut premi.

    3. Pihak penanggung mengharapkan keuntungan dari pembelinya, dan dengan keuntunga ini ia bersedia menanggung kerugiannya yang mungkin ditimbulkan akibat bahaya yang menjadi pokok pertanggungan.

    4. Kerugian yang timbul harus merupakan hal yang tidak disengaja

    Dengan melihat pengertian asuransi diatas, maka asuransi ini bisa dipersamakan dengan perjanjian tukar menukar dengan pertimbangan untung-rugi. Berdasarkan KUHD ini, tertanggung yang memutuskan kontrak sebelum masa habis akan kehilangan seluruh atau sebagian besar premi yang telah dibayarkan. Disatu pihak, tertanggung mengalami kerugian dan di pihak lain penanggung akan mendapat keuntungan.

    Pada asuransi syariah, perjanjian yang terjadi adalah perjanjian tolong-menolong bukan perjanjian tukar-menukar. Jadi, peserta asuransi yang berhenti sebelum masa kontrak berakhir, peserta dapat menarik kembali seluruh iuran yang telah dibayarkan. Bahkan jumlah tersebut masih ditambah dengan keuntungan yang diperoleh selama uangnya dikelola perusahaan.

    1. Undang-undang No. 2 Tahun 1992 tentang usaha Perasuransian

    Asuransi berdasarkan Pasal 1 Undang-undang No. 2 Tahun 1992 tentang Usaha Perasuransian dapat didefinisikan sebagai berikut:

    Asuransi atau pertanggungan adalah perjanjian antara kedua belah pihak atau lebih; pihak penanggung mengikatkan diri kepada tertanggung dengan menerima premi asuransi, untuk memberikan penggantian kepada tertanggung karena kerugian, kerusakan atau kehilangan keuntungan yang diharapkan atau tanggung jawab hukum kepada pihak ketiga yang mungkin akan diderita tertanggung, yang timbul dari suatu peristiwa yang tidak pasti, atau untuk memberikan suatu pembayaran yang didasarkan atas meninggal atau hidupnya seorang yang dipertanggungkan”.

    Berdasarkan undang-undang ini, perjanjian yang terjadi adalah antara pihak penanggung (perusahaan asuransi) dengan tertanggung (peserta asuransi) dimana terjadi peralihan risiko dari tertanggung kepada penanggung. Sedangkan dalam asuransi syariah, berdasarkan konsep kerja sama dan perlindungan, perjanjian pertanggungan bukanlah antara penanggung dengan tertanggung, tetapi para tertanggung sendirilah yang saling berjanji untuk menanggung diantara mereka. Perusahaan hanya sebagai pemegang amanah.

    1. Peraturan Pemerintah No.63 Tahun 1999 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah No.73 Tahun 1992 tentang Penyelenggaraan Usaha Perasuransian

    Pada ketentuan persyaratan umum perusahaan perasuransian, yaitu Pasal 7 PP No. 63 Tahun 1999 disebutkan bahwa sekurang-kurangnya 20% dari modal yang dipersyaratkan, harus ditempatkan dalam bentuk deposito berjangka pada bank umum. Ketentuan ini tidak dapat begitu saja diterapkan dalam asuransi syariah. Untuk asuransi syariah, deposito berjangka yang digunakan haruslah yang sesuai dengan syariah. Sementara itu, dalam Pasal 13 PP No. 63 Tahun 1999, investasi perusahaan asuransi dan perusahaan reasuransi disyaratkan pada jenis investasi yang aman dan menguntungkan serta memiliki tingkat likuiditas yang sesuai dengan kewajiban yang harus dipenuhi. Untuk asuransi syariah, persyaratan investasi tersebut harus ditambah dengan jenis investasi yang sesuai dengan syariah.

    1. PERKEMBANGAN DAN PERTUMBUHAN ASURANSI SYARIAH DI INDONESIA

    Dalam beberapa tahun terakhir industri keuangan syariah di Indonesia tumbuh pesat, termasuk di antaranya asuransi syariah. Perkembangannya yang cukup signifikan membuat sejumlah perusahaan asuransi konvensional membentuk unit syariah. Kini terdapat 38 perusahaan yang telah memiliki unit syariah, di mana tiga perusahaan di antaranya adalah perusahaan murni syariah. Di tahun ini industri asuransi syariah pun akan semakin ramai. Diperkirakan tiga perusahaan asuransi akan membuka unit syariah di 2009. Bagi Ketua Umum Asosiasi Asuransi Syariah Indonesia (AASI) periode 2008-2011, Mohammad Shaifie Zein perkembangan asuransi syariah dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan catatan cukup baik. ”Melihat peningkatan premi asuransi syariah lebih dari 100 persen di 2007 dibanding tahun sebelumnya adalah indikasi masyarakat sudah mulai mengetahui tentang asuransi syariah,”

    Tercatat, premi di 2007 sebesar Rp 1,2 triliun dengan total asset Rp 1,9 triliun, sementara di 2006 tercatat premi sebesar Rp 497 miliar dengan asset Rp 917 miliar. Walau tahun ini diperkirakan pertumbuhan tak seperti tahun sebelumnya karena krisis ekonomi, namun diprediksi asset dapat mencapai sekitar Rp 2 triliun. Meski demikian sosialisasi secara gencar terus dilakukan. Untuk mendorong asuransi syariah di Indonesia AASI menyiapkan sejumlah program. Di antaranya adalah melakukan seminar asuransi syariah bersama dengan Islamic Banking and Finance Institute Malaysia untuk lebih memperkenalkan industri asuransi syariah kepada masyarakat. “

    Meskipun tidak sesemarak perbankan syariah, perkembangan asuransi syariah juga cenderung positif dari tahun ke tahun. Berdasarkan data Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (BapepamLK), hingga bulan November 2007, telah ada setidaknya 38 perusahaan asuransi yang beroperasi sesuai dengan ketentuan syariah. Perinciannya, dua unit merupakan perusahaan asuransi jiwa syariah, satu unit merupakan perusahaan asuransi kerugian syariah, 13 unit merupakan perusahaan asuransi jiwa konvensional yang mempunyai cabang syariah, dan 19 unit merupakan perusahaan asuransi kerugian konvensional yang membuka cabang syariah. Sisanya, sebanyak tiga unit merupakan perusahaan reasuransi yang mempunyai cabang syariah. Pada akhir tahun 2002, nilai aset asuransi jiwa syariah baru mencapai Rp 255 milyar. Pada September 2007, nilai aset tersebut telah meningkat menjadi Rp 763,98 milyar. Peningkatan aset juga diikuti dengan peningkatan klaim dan investasi. Nilai klaim asuransi jiwa syariah pada Desember 2002 hanya Rp 28 milyar, sementara pada September 2007 mencapai Rp 139,44 milyar. Begitu juga, nilai investasi asuransi jiwa syariah pada akhir tahun 2002 baru sebesar Rp 228 milyar, sementara pada September 2007 telah menjadi 535,6 milyar. Untuk asuransi kerugian syariah, pada akhir tahun 2002, nilai asetnya baru mencapai Rp 51,44 milyar. Pada September 2007, nilai aset tersebut telah meningkat menjadi Rp 627,46 milyar. Nilai klaim asuransi kerugian syariah pada Desember 2002 hanya Rp 23,6 milyar, sementara pada September 2007 telah mencapai Rp 184,58 milyar. Besarnya premi tahun 2008 adalah 173 milyar.

    ASURANSI SYARIAH

    s.d. 10 Juli 2008

    1. Asuransi Syariah

      1. PT Asuransi Takaful Umum

      2. PT Asuransi Takaful Keluarga

      3. PT Asuransi Syariah Mubarakah

      4. PT MAA Life Assurance

      5. PT MAA General Assurance

      6. PT Great Eastern Life Indonesia

      7. PT Asuransi Tri Pakarta

      8. PT AJB Bumiputera 1912

      9. PT Asuransi Jiwa BRIngin Life Sejahtera

      10. PT Asuransi BRIngin Sejahtera Artamakmur

      11. PT Asuransi Binagriya Upakara

      12. PT Asuransi Jasindo Takaful

      13. PT Asuransi Central Asia

      14. PT Asuransi Umum BumiPuteraMuda 1967

      15. PT Asuransi Astra Buana

      16. PT BNI Life Indonesia

      17. PT Asuransi Adira Dinamika

      18. PT Staco Jasapratama

      19. PT Asuransi Sinar Mas

      20. PT Asuransi Tokio Marine Indonesia

      21. PT Asuransi Jiwa SinarMas

      22. PT Tugu Pratama Indonesia

      23. PT Asuransi AIA Indonesia

      24. PT Asuransi Allianz Life Indonesia

      25. PT Panin Life, Tbk

      26. PT Asuransi Allianz Utama Indonesia

      27. PT Asuransi Ramayana, Tbk

      28. PT Asuransi Jiwa Mega Life

      29. PT AJ Central Asia Raya

      30. PT Asuransi Parolamas

      31. PT Asuransi Umum Mega

      32. PT Asuransi Jiwa Askrida

      33. PT Asuransi Jiwasraya (Persero)

      34. PT Equity Financial Solution

      35. PT Asuransi Kredit Indonesia

      36. PT Asuransi Bintang, Tbk

      37. PT Asuransi Bangun Askrida

      38. PT Prudential Life Assurance

      39. PT Jasaraharja Putera

      40. PT AIG Life

      41. PT Asuransi Karyamas Sentralindo

      42. PT Asuransi Jiwa Sequis Life

    2. Reasuransi Syariah

      1. PT Reasuransi Internasional Indonesia (ReIndo)

      2. PT Reasuransi Nasional Indonesia (Nasre)

      3. PT Maskapai Reasuransi Indonesia (Marein)

    1. Broker Asuransi dan Reasuransi

      1. PT Fresnel Perdana Mandiri

      2. PT Asiare Binajasa

      3. PT Amanah Jamin Indonesia

      4. PT Asrinda Re-Brokers dan AA Pialang Asuransi

      5. PT Madani Karsa Mandiri

      6. PT Aon Indonesia

    Sumber mui.or.id

    1. Dampak perkembangan asuransi terhadap perekonomian umat

    Terbentuknya asuransi takaful memperkuat keberadaan lembaga perbankan syariah yang sudah ada terlebih dahulu, yakni Bank Muamalat karena Bank Muamalat juga membutuhkan lembaga asuransi yang dijalankan dengan prinsip yang sama. Dengan semakin berkembangannya asuransi syariah di Indonesia, hal itu mendorong umat untuk bisa berinvestasi sesuai dengan syariah dengan hasil yang optimal pula.

    1. Prospek, Kendala, dan Strategi Pengembangaannya

    Kendala bagi perkembangan asuransi syariah, antara lain:

    1. Kurangnya sosialisasi

    Media komunikasi yang digunakan masih kurang. Media yang digunakan hanya dengan cara presentasi, seminar ceramah. Sementara sosialisasi melalui Koran, televise, dan radio masih sangat terbatas, kecuali dalam beberapa bulan terakhir ini. Hal ini tentu sangat dipengaruhi oleh faktor permodalan.

    1. Tenaga Ahli Asuransi Syariah

    Saat ini tenaga ahli yang benar-benar menguasai teknik asuransi sekaligus secara bersamaan menguasai syariah sangat terbatas.

    1. Dukungan umat

    Masyarakat muslim belum menjadikan asuransi syariah sebagai kewajiban dalam praktik muamalah, sehingga tidak jarang kepentingan financial jauh lebih dominan dibanding kebutuhan kesesuaian dengan ketentuan hukum islam. Jika tidak ada kesiapan umat untuk mendukung bisnis asuransi syariah tentu bisnis ini tidak akan mampu bergerak, karena keunggulannya terletak pada sektor penempatan dana atau investasi syariahnya.

    1. Dukungan pemerintah

    Pemerintah mempunyai kewajiban untuk menyediakan sarana perekonomian yang berbasis syariah karena mayoritas dari penduduk negeri ini adalah muslim. Kendala perundang-undangan adalah salah satu contoh betapa perhatian pemerintah belum optimal untuk memfasilitasi perkembangan asuransi syariah.

    Strategi pengembangannya

    1. Perlunya strategi pemasaran yang lebih fokus kepada upaya dalam memenuhi pemahaman masyarakat tentang asuransi Islam.

    2. Sebagai lembaga keuangan yang menggunakan sistem syariah tentunya aspek syiar Islam merupakan bagian dari operasi asuransi tersebut. Syiar Islam tidak hanya dalam bentuk normatif, tetapi juga hubungan antara perusahaan asuransi dengan masyarakat.

    3. Dukungan dari berbagai pihak terutama pemerintah, ulama, akademisi dan masyarakat diperlukan untuk memberikan masukan dalam penyelenggaraan operasi asuransi Islam. Hal ini diperlukan sebagai kontrol terhadap asuransi Islam agar berjalan pada sistem yang berlaku sekaligus meningkatkan kemampuan asuransi Islam dalam hal menangkap kebutuhan dan keinginan masyarakat (Heri Sudarsono, 2004: 121)

    4. Meningkatkan kualitas SDM mengenai asuransi syariah.

    Ada sejumlah alasan mengapa institusi keuangan konvensional yang ada sekarang ini mulai melirik sistem syariah, antara lain pasar yang potensial karena mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam dan kesadaran mereka untuk berperilaku bisnis secara Islami. Potensi ini menjadi modal bagi perkembangan ekonomi umat di masa datang. Selain itu, terbukti bahwa institusi ekonomi yang menerapkan prinsip syariah, mampu bertahan di tengah krisis ekonomi yang melanda Indonesia. Di sektor perbankan saja misalnya, sampai tahun 2010 nanti jumlah kantor cabang bank-bank syariah diperkirakan akan mencapai 586 cabang. Prospek perbankan syariah di masa depan diperkirakan juga akan semakin cerah. Selain perbankan, sektor ekonomi syariah lainnya yang juga mulai berkembang adalah asuransi syariah. Prinsip asuransi syariah pada intinya adalah kejelasan dana, tidak mengandung judi dan riba atau bunga. Sama halnya dengan perbankan syariah, melihat potensi umat Islam yang ada di Indonesia, prospek asuransi syariah sangat menjanjikan. Dalam sepuluh tahun ke depan diperkirakan Indonesia bisa menjadi negara yang pasar asuransinya paling besar di dunia. Data dari Asosiasi Asuransi Syariah di Indonesia menyebutkan, tingkat pertumbuhan ekonomi syariah selama 5 tahun terakhir mencapai 40 persen, sementara asuransi konvensional hanya 22,7 persen. Perbankan dan asuransi, hanya salah satu dari industri keuangan syariah yang kini sedang berkembang pesat. Pada akhirnya, sistem ekonomi syariah akan membawa dampak lahirnya pelaku-pelaku bisnis yang bukan hanya berjiwa wirausaha tapi juga berperilaku Islami, bersikap jujur, menetapkan upah yang adil dan menjaga keharmonisan hubungan antara atasan dan bawahan. Bisa dibayangkan kesejahteraan yang bisa dinikmati umat jika penerapan ekonomi syariah ini sudah mencakup segala aktivitas ekonomi di Indonesia. Peluang penerapan ekonomi syariah masih terbuka luas. Persoalannya sekarang, mampukah kita memanfaatkan peluang yang terbuka lebar itu. Kesejahteraan umat bisa dinikmati jika penerapan ekonomi syariah sudah mencakup seluruh aktivitas ekonomi di Indonesia. Peluang untuk menerapkan ekonomi syariah terbuka lebar.

    BAB III

    PENUTUP

    Takaful dapat digambarkan sebagai asuransi yang prinsip operasionalnya didasarkan pada syariat Islam dengan mengacu kepada Al-Quran dan As-Sunah. perkembangan asuransi syariah juga cenderung positif dari tahun ke tahun. Berdasarkan data Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (BapepamLK), hingga bulan November 2007, telah ada setidaknya 38 perusahaan asuransi yang beroperasi sesuai dengan ketentuan syariah. Dengan itu marilah kita bersama- sama ikut berperan aktif dalam menggalakkan perkembangan lembaga non bank yagn berbasis syariah.

    DAFTAR PUSTAKA

    • Mukhtar Alshodiq, dkk. 2005. Fatwa-Fatwa Ekonomi Syariah Kontemporer. Jakarta: Renaisan.

    • Djazuli, A. dan Yadi Janwari. 2002. Lembaga-lembaga Perekonomian Umat. Jakarta: PT raja Grafindo Persada.

    • www. Ipin4u.esmartstudent.com

    • www.geocities.com

    • Dewi Gemala. Aspek Hukum Perbankan dan Perasuransian di Indonesia. Jakarta: kencana

    • Rahmat Husein.1997Asuransi Takaful Selayang Pandang dalam Wawasan Islam dan Ekonomi Jakarta: Lembaga Penerbit FE-UI,

    • Karnaen A. Perwataatmadja.1996.MembumikanEkonomi Islam di Indonesia. Depok: Usaha Kami

    • www.kompas.com/kompas-cetak/0801/08/ekonomi/4147979.htm www.mediaindonesia.com/berita.asp?id=155453

    • republika,com

    • takaful Indonesia.com

    • mui.or.id

    • bapepam LK

    11H.A. Dzajuli dan Yadi Janwari, Lembaga-lembaga Perekonomian Umat (Sebuah Pengenalan). (Jakarta: PT RajaGrafindo, 2002), hlm. 120.

    2 Dewi, Gemala. Aspek Hukum Perbankan dan Perasuransian di Indonesia. (Jakarta: kencana)

    3 Rahmat Husein, Asuransi Takaful Selayang Pandang dalam Wawasan Islam dan Ekonomi (Jakarta: Lembaga Penerbit FE-UI, 1997), hlm. 234.

    4 Suparman, M dan Endang. Hukum Asuransi dalam H.A. Dzajuli dan Yadi Janwari, op.cit. hal. 41

    5 Fuad Mohd Fachruddin. Riba dalam Bank-Koperasi, perseroan, dan Asuransi dalam H.A. Dzajuli dan Yadi Janwari, op.cit, hal. 198

    6 Karnaen A. Perwataatmadja, MembumikanEkonomi Islam di Indonesia.(Depok: Usaha Kami,1996), hlm.230-231

    7 Djazuli A. Lembaga-lembaga Perekonomian Umat. (Jakarta:Raja Grafindo,2002), hlm.129.

    8 Djazuli A. Lembaga-lembaga Perekonomian Umat. (Jakarta:Raja Grafindo,2002), hlm. 124.

    Leave a reply