blog ekonomi syariah zakat wakaf kawafi
RSS icon Email icon Home icon
  • TABUNGAN SYARIAH

    Posted on Oktober 16th, 2009 stars_neverlie No comments

    TABUNGAN SYARIAH

    oleh: Lisna Nety Herawati & Nur Imamah

    1. Pengertian

    Jenis simpanan yang kedua adalah tabungan (saving deposit). Tabungan adalah simpanan yang penarikannya hanya dapat dilakukan menurut syarat tertentu yang disepakati, tetapi tidak dapat ditarik dengan cek, bilyet giro, dan atau alat lainnya yang dipersamakan dengan itu. Nasabah jika hendak mengambil simpanannya dapat datang langsung ke bank dengan membawa buku tabungan, slip penarikan, atau melalui fasilitas ATM.

    Dalam hal ini terdapat dua prinsip perjanjian Islam yang sesuai diimplementasikan dalam produk perbankan berupa tabungan, yaitu wadiah dan mudharabah.

    A. Tabungan Wadiah

    Tabungan wadiah merupakan tabungan yang dijalankan berdasarkan akad wadiah, yakni titipan murni yang harus dijaga dan dikembalikan setiap saat sesuai dengan kehendak pemiliknya. Berkaitan dengan produk tabungan wadiah, Bank Syariah menggunakan akad wadiah yad adh-dhamanah. Dalam hal ini, nasabah bertindak sebagai penitip yang memberikan hak kepada Bank Syariah untuk menggunakan atau memanfaatkan uang atau barang titipannya, sedangkan Bank Syariah bertindak sebagai pihak dititipi dana atau barang yang disertai hak untuk menggunakan atau memanfaatkan dana atau barang tersebut. Sebagai konsekuensinya, bank bertanggung jawab terhadap keutuhan harta titipan tersebut serta mengembalikannya kapan saja pemiliknya menghendaki. Disisi lain, bank juga berhak sepenuhnya atas keuntungan dari hasil penggunaan atau pemanfaatan dana atau barang tersebut.

    Mengingat wadiah yad dhamanah ini mempunyai implikasi hokum yang sama dengan qardh, maka nasabah penitip dan bank tidak boleh saling menjanjikan untuk membagihasilkan keuntungan harta tersebut. Namun demikian, bank diperkenankan memberikan bonus kepada pemilik harta titipan selama tidak disyaratkan di muka. Dengan kata lain, pemberian bonus merupakan kebijakan Bank Syariah semata yang bersifat sukarela.

    Dari pembahasan diatas, dapat disarikan beberapa ketentuan umum tabungan berdasarkan prinsip wadiah sebagai berikut:

    1. Tabungan wadiah merupakan tabungan yang bersifat titipan murni yanga haris dijaga dan dikembalikan setiap saat (on call) sesuai dengan kehendak pemilik harta.

    2. Keuntungan atau kerugian dari penyaluran dana atau pemanfaatan barang menjadi milik atau tanggungan bank, sedangakan nasabah penitip tidak dijanjikan imbalan dan tidak menanggung kerugian.

    3. Bank dimungkinkan memberikan bonus kepada pemilik harta sebagai sebuah insentif selama tidak diperjanjikan dalam akad pembukaan rekening.

    Dalam hal bank berkeinginan untuk memberikan bonus wadiah, beberapa metode yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut:

    1) Bonus wadiah atas dasar saldo terendah, yakni tarif bonus wadiah dikalikan dengan saldo terendah bulan yang bersangkutan.

    Tarif bonus wadiah x saldo terendah bulan yang bersangkutan

    2) Bonus wadiah atas dasar saldo rata-rata harian, yakni tarif bonus wadiah dikalikan dengan saldo rata-rata harian bulan yang bersangkutan.

    Tarif bonus wadiah x saldo rata-rata harian bulan yang bersangkutan

    3) Bonus wadiah atas dasar saldo harian, yakni bonus wadiah dikalikan dengan saldo harian yang bersangkutan dikali hari efektif.

    Tarif bonus wadiah x saldo harian ybs x hari efektif

    Dalam memperhitungkan pemberian bonus wadiah tersebut, hal-hal yang harus diperhatikan adalah:

    a) Tarif bonus wadiah merupakan besarnya tarif yang diberikan bank sesuai ketentuan.

    b) Saldo terendah adalah saldo terendah dalam satu bulan.

    c) Saldo rata-rata harian adalah total saldo dalam satu bulan dibagi hari bagi hasil sebenarnya menurut bulan kalender. Misalnya, bulan Januari 31 hari, bulan Februari 28/29 hari, dengan catatan satu tahun 365 hari.

    d) Saldo harian adalah saldo pada akhir hari.

    e) Hari efektif adalah hari kalender tidak termasuk hari tanggal pembukaan atau tanggal penutupan, tapi termasuk hari tanggal tutup buku.

    f) Dana tabungan yang mengendap kurang dari satu bulan karena rekening baru dibuka awal bulan atau ditutup tidak pada akhir bulan tidak mendapatkan bonus wadiah, kecuali apabila perhitungan bonus wadiahnya atas dasar saldo harian.

    B. Tabungan Mudharabah

    Yang dimaksud dengan tabungan mudharabah adalah tabungan yang dijalankan berdasarkan akad mudharabah. Seperti yang telah dikemukakan pada bab-bab terdahulu, mudharabah mempunyai dua bentuk, yakni mudharabah mutlaqah dan mudharabah muqayyadah, yang perbedaan utama diantara keduanya terletak pada ada atau tidaknya persyaratan yang diberikan pemilik dana kepada bank dalam mengelola hartanya. Dalam hal ini, bank syariah bertindak sebagai mudharib (pengelola dana), sedangkan nasabah bertindak sebagai shahibul mal (pemilik dana). Bank syariah dalam kapasitasnya sebagai mudharib, mempunyai kuasa untuk melakukan berbagai macam usaha yang tidak bertentangan dengan prinsip syariah serta mengembangkannya, termasuk melakukan akad mudharabah dengan pihak lain. Namun, di sisi lain, Bank Syariah juga memiliki sifat sebagai seorang wali amanah (trustee), yang berarti bank harus berhati-hati atau bijaksana serta beritikad baik dan bertanggung jawab atas segala sesuatu yang timbul akibat kesalahan atau kelalaiannya.

    Dari hasil pengelolaan dana mudharabah, Bank Syariah akan membagihasilkan kepada pemilik dana sesuai dengan nisbah yang telah disepakati dan dituangkan dalam akad pembukaan rekening. Dalam mengelola dana tersebut, bank tidak bertanggung jawab terhadap penuh terhadap kerugian tersebut.

    Dalam mengelola harta mudharabah, bank menutup biaya operasional tabungan dengan menggunakan nisbah keuntungan yang menjadi haknya. Disamping itu, bank tidak diperkenankan mengurangi nisbah keuntungan nasabah penabung tanpa persetujuan yang bersangkutan. Sesuai dengan ketentuan yang berlaku, PPH bagi hasil tabungan mudharabah dibebankan langsung ke rekening tabungan mudharabah pada saat perhitungan bagi hasil.

    Perhitungan bagi hasil tabungan mudharabah dilakukan berdasarkan saldo rata-rata harian yang dihitung ditiap akhir bulan dan di buku awal bulan berikutnya. Rumus perhitungan bagi hasil tabungan mudharabah adalah sebagai berikut:

    Hari bagi hasil x saldo rata-rata harian x tingkat bagi hasi

    Hari kalender yang bersangkutan

    Dalam memperhitungkan bagi hasil tabungan mudharabah tersebut, hal-hal yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut:

    Ü Hasil perhitungan bagi hasil dalam angka satuan bulat tanpa mengurangi hak nasabah

    § Pembulatan ke atas untuk nasabah

    § Pembulatan kebawah untuk bank

    Ü Hasil perhitungan pajak dibulatkan ke atas sampai puluhan terdekat.

    Dalam hal pembayaran bagi hasil, Bank Syariah menggunakan metode end of month, yaitu:

    Ø Pembayaran bagi hasil tabungan mudharabah dilakukan secara bulanan, yaitu pada tanggal tutup buku setiap bulan.

    Ø Bagi hasil bulan pertama dihitung secara proporsional hari efektif termasuk tanggal tutup buku, tapi tidak termasuk tanggal pembukaan tabungan.

    Ø Bagi hasil bulan terakhir dihitung secara proporsional hari efektif. Tingkat bagi hasil yang dibayarkan adalah tingkat bagi hasil tutup buku bulan terakhir.

    Ø Jumlah hari sebulan adalah jumlah hari kalender bulan yang bersangkutan (28 hari, 29 hari, 30 hari, 31 hari)

    Ø Bagi hasil bulanan yang diterima nasabah dapat diafiliasikan ke rekening lainnya sesuai permintaan nasabah.

    Dari pembahasan diatas, dapat disarikan beberapa ketentuan umum tabungan berdasarkan prinsip mudharabah sebagai berikut:

    * Dalam transaksi ini, nasabah bertindak sebagai shahibul maal atau pemilik dana, dan bank bertindak sebagai mudharib atau pengelola dana

    * Dalam kapasitasnya sebagai mudharib, bank dapat melakukan berbagi macam usaha yang tidak bertentangan dengan prinsip syariah dan mengembangkannya, termasuk di dalamnya mudharabah dengan pihak lain.

    * Modal harus dinyatakan dengan jumlahnya, dalam bentuk tunai dan bukan piutang.

    * Pembagian keuntungan harus dinyatakan dalam bentuk nisbah dan dituangkan dalam bentuk akad pembukaan rekening.

    * Bank sebagai mudharib menutup biaya operasional tabungan dengan menggunakan nisbah keuntungan yang menjadsi haknya.

    * Bank tidak diperkenankan mengurangi nisbah keuntungan nasabah tanpa persetujuan yang bersangkutan.[2]

    [3]Perbandingan Tabungan Wadiah dan Mudharabah

    No

    Tabungan Mudharabah

    Tabungan Wadi’ah

    1

    Sifat Dana

    Investasi

    Titipan

    2

    Penarikan

    Hanya dapat dilakukan pada periode/waktu tertentu

    Dapat dilakukan setiap saat

    3

    Insentif

    Bagi hasil

    Bonus (jika ada)

    4

    Pengembalian Modal

    Tidak dijamin dikembalikan 100%

    Dijamin dikembalikan 100%

    Sumber: Rafa Consulting (2004)

    2. Landasan hokum Tabungan Wadiah dan Tabungan Mudharabah dalam Praktik Perbankan Syariah

    Dasar hokum terhadap produk bank syariah berupa tabungan ini dapat kita jumpai dalam Islam maupun dalam hokum positif. Penjelasannya adalah sebagai berikut:

    a) Landasan Syariah

    Dasar hokum dari akad wadiah sudah dikemukakan di atas, sedangkan dasar hokum dari akad mudharabah dapat kita jumpai dalam Al-Qur’an, Hadits, dan Ijma’

    o Al-Qur’an

    Ketentuan hokum tentang mudharabah dalam Al-Qur’an tertuang dalam surat al-Muzzamil ayat 20 yang artinya:

    “…dan dari orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah SWT..”

    Di samping itu juga dapat kit abaca dalam Surat al-Jumu’ah ayat 10 yang artinya:

    “Apabila telah ditunaikan shalat maka bertebaranlah kamu di muka bumi dan carilah karunia Allah SWT..”

    Dari kedua ayat Al-Qur’an di atas pada intinya adalah berisi dorongan bagi setiap manusia untuk melakukan perjalanan usaha. Dalam dunia modern seperti sekarang ini siapa saja, akan menjadi lebih mudah untuk melakukan investasi yang benar-benar sesuai dengan prinsip-prinsip syariah, antara lain melalui mekanisme tabungan mudharabah ini.

    o Hadits

    Ketentuan hokum dalam hadits dapat kita jumpai dalam hadits yang diriwayatkan oleh Thabrani yang artinya:

    “Diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa Sayyidina Abbas bin Abdul Muthalib jika memberikan dana ke mitra usahanya secara mudharabah ia mensyaratkan agar dananya tidak dibawa mengarungi lautan, menuruni lembah yang berbahaya, atau membeli ternak. Jika menyalahi peraturan tersebut, yang bersangkutan bertanggung jawab atas dana tersebut. Disampaikanlah syarat-syarat tersebut kepada Rasulullah SAW dan Rasulullahpun membolehkannya”

    b) Landasan Hukum Positif

    Dasar hokum atas produk perbankan syariah berupa tabungan dalam hokum positif Indonesia adalah UU No. 10 tahun 1998 tentang perubahan atas Undang-undang nomor 7 tahun 1992 tentang Perbankan. Di samping itu juga dapat kita temukan dalam pasal 36 huruf a poin 2 PBI Nomor 6/24/PBI/2004 tentang Bank Umum yang melaksanakan Kegiatan Usaha Berdasarkan Prinsip Syariah. Intinya menyebutkan bahwa bank wajib menerapkan prinsip syariah dan prinsip kehati-hatian dalam kegiatan usahanya melakukan penghimpunan dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan investasi antara lain berupa tabungan berdasarkan prinsip wadiah dan atau mudharabah.

    Disamping itu juga telah mendapatkan pengaturan dalam fatwa DSN No. 02/DSN-MUI/IV/2000 tanggal 12 Mei 2000 yang intinya menyatakan bahwa untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dalam meningkatkan kesejahteraan dan dalam menyimpan kekayaan, memerlukan jasa perbankan. Salah satu produk perbankan di bidang penghimpunan dana dari masyarakat adalah tabungan, yaitu simpanan dana yang penarikannya hanya dapat dilakukan menurut syarat-syarat tertentu yang telah disepakati, tetapi tidak dapat ditarik dengan cek, bilyet giro, dan/atau alat lainnyha yang dipersamakan dengan itu.

    3. Implementasikan Prinsip Wadiah dan Mudharabah dalam Produk Tabungan Perbankan Syariah

    Produk funding bank syariah dalam bentuk tabungan dapat memilih konsep wadiah maupun mudharabah. Aplikasi akad wadiah dan mudharabah secara teknis dapat kita baca dalam pasal 3 dan 5 PBI No. 7/46/PBI/2005, yaitu sebagai berikut:

    v Tabungan yang menggunakan akad wadiah (pasal 3)

    a. Bank bertindak sebagai penerima dana titipan dan nasabah bertindak sebagai pemilik dana titipan;

    b. Dana titipan disetor penuh kepada Bank dan dinyatakan dalam jumlah nominal;

    c. Dana titipan dapat diambil setiap saat;

    d. Tidak diperbolehkan menjanjikan pemberian imbalan atau bonus kepada nasabah;

    e. Bank menjamin pengembalian dana titipan nasabah.

    v Tabungan yang menggunakan akad mudharabah (pasal 5)

    a. Bank bertindak sebagai pengelola dana dan nasabah bertindak sebagai pemilik dana;

    b. Dana disetor penuh kepada Bank dan dinyatakan dalam jumlah nominal;

    c. Pembagian keuntungan dari pengelolaan dana investasi dinyatakan dalam bentuk nisbah;

    d. Pada akad tabungan berdasarkan mudharabah, nasabah wajib menginvestasikan minimum dana tertentu yang jumlahnya ditetapkan oleh Bank dan tidak dapat ditarik oleh nasabah kecuali dalam rangka penutupan rekening;

    e. Nasabah tidak diperbolehkan menarik dana di luar kesepakatan;

    f. Bank sebagai mudharib menutup biaya operasional tabungan atau deposito dengan menggunakan nisbah keuntungan yang menjadi haknya;

    g. Bank tidak diperbolehkan mengurangi bagian keuntungan nasabah tanpa persetujuan nasabah yang bersangkutan ; dan

    h. Bank tidak menjamin dana nasabah, kecuali diatur berbeda dalam perundang-undangan yang berlaku.

    Bank syariah akan memberikan bonus kepada nasabah yang memilih produk berupa tabungan wadiah. Besarnya bonus yang akan diterima oleh nasabah penabung tidak boleh ditentukan diawal akad, melainkan sepenuhnya diserahkan kepada kebijaksanaan bank syariah yang bersangkutan. Nasabah dalam hal ini tidak menanggung risiko kerugian dan uangnya dapat diambil sewaktu-waktu secara utuh setelah dikurangi biaya administrasi yang telah ditentukan oleh bank. Dengan demikian dalam produk bank berupa tabungan wadiah ini didasarkan pada akad wadiah yad dhamanah, sehingga bank selaku pihak yang menerima titipan dana diperolehkan memproduktifkannya.

    Untuk jenis tabungan mudharabah memang ditujukan untuk memenuhi keinginan nasabah yang mengharapakan keuntungan atas uang yang disimpan di bank. Besarnya keuntungan yang akan diterima oleh nasabah penabung telah ditentukan dalam nisbah tertentu di awal perjanjian. Secara yuridis dengan memilih tabungan mudharabah nasabah mempunyai peluang mendapatkan keuntungan, namun ia juga akan menanggung risiko kehilangan modal jika bank selaku mudharib mengalami kerugian.

    4. Prospek Tabungan

    • Banyak masyarakat yang ingin menyimpan maupun menginvestasikan uang mereka di produk-produk berlabel halal.
    • Memiliki produk tabungan yang tidak rentan dengan krisis.
    • Mempunyai fitur-fitur yang variatif, sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

    Strategi

    • Memperbanyak fitur-fitur tabungan sehingga dapat memenuhi kebutuhan masyarakat
    • Mempromosikan produknya langsung kepada sasaran pasar.
    • Bekerja sama dengan institusi-institusi tertentu dengan tujuan menambah nasabah.

    Kendala-kendala

    • Kurangnya dana dalam mempromosikan produk tabungan, terutama untuk media elektronik.
    • Dibandingkan dengan sistem bunga, sistem bagi hasil tidak dapat diprediksikan keuntungannya karena tergantung pada pendapatan bank.
    • Dibandingkan dengan produk lain, tabungan relatif lebih rendah nisbahnya.

    Contoh Fitur-fitur Tabungan Syariah
    (Fitur tabungan syariah di Bank Syariah Mandiri)

    #Tabungan Berencana BSM

    # Tabungan Simpatik BSM

    # Tabungan BSM

    # Tabungan BSM Dollar

    # Tabungan Mabrur BSM

    # Tabungan Kurban BSM

    # Tabungan BSM Investa Cendekia

    DAFTAR PUSTAKA

    Anshori, Abdul Ghofur, Perbankan Syariah di Indonesia, Yogyakarta: Gajah Mada University Press, 2007.

    Ascarya, Akad dan Produk Bank Syariah, Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2007.

    Karim, Adiwarman, Bank Islam; Analisis Fiqih dan Keuangan Ed. 3, Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2008.


    [1] Abdul Ghofur Anshori, Perbankan Syariah di Indonesia, hlm. 87

    [2] Bank Islam; Analisis Fiqih dan Keuangan (edisi ketiga), Ir. Adiwarman A. Karim, S.E., M.B.A., M.A.E.P., hlm. 297

    [3] Ascarya, Akad dan Produk Bank Syariah, hlm. 118

    Leave a reply