blog ekonomi syariah zakat wakaf kawafi
RSS icon Email icon Home icon
  • Management Fundraising BWI (Badan Wakaf Indonesia)

    Posted on Mei 12th, 2010 putut pena ultahera No comments

    MANAGEMENT FUNDRAISING ZISWAF
    BADAN WAKAF INDONESIA (BWI)

    Makalah ini diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah management Fundraising ziswaf

    Disusun oleh:

    Putut Pena Ultahera : 107046301858

    Solihin : 107046301994

    JURUSAN MANAJEMEN ZAKAT DAN WAKAF
    FAKULTAS SYARI’AH DAN HUKUM
    UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
    JAKARTA
    2010

    BAB I
    Pendahuluan
    1. Latar belakang
    Sebagai salah satu lembaga Islam, wakaf telah menjadi salah satu penunjang perkembangan masyarakat Islam. Sebagian besar rumah ibadah, lembaga pendidikan dan lembaga-lembaga keagamaan Islam lainya di bangun di atas tanah wakaf. Menurut data yang ada di Departemen Agama Repeublik Indonesia sampai oktober 2007, tanah wakaf yang ada di Indonesia berjummlah 403.845 lokasi, dengan luas tanah 1.566.672.406 M2 . apabila jumlah tanah wakaf di indonesia ini dihubungkan dengan negara yang saat ini menghadapi berbagai krisis termasuk krisis ekonomi,, sebenarnya jumlah tanah wakaf itu tersebut merupakan suatu potensi sumber daya ekonomi untuk lebih dikembangkan guna membantu menyelesaikan krisis ekonomi, sayangnya tanah wakaf yang berjumlah begitu banyak, pada umumnya pemanfaatannnya masih bersifat konsumtif dan belum dikelola secara produktif.
    Suatu kenyataan yang dilihat bahwa wakaf yang ada di indonesia pada umumnya berupa mesjid,mushalla, madrasah,sekolahan, makam, dan rumah yatim piatu. Dilihat dari segi sosial dan ekonomi, wakaf yang ada memang belum dapat berperan dalam menanggulangi permasalahan umat dapat berperan menanggulangi permasalahan umat khususnya maslah sosial dan ekonomi. Hal ini dapat dipahami karena kebanyakan wakaf yang ada kurang maksimal dalam pengelolaannya. Kondisi ini disebabkan oleh keadaan tanah wakaf yang sempit dan hanya cukup dipergunakan untuk tujuan wakaf yang hanya diikrarkan wakif seperti untuk musholla dan masjidtanpa diiringi tanah atau benda yang dapat dikelola secara produktif. Memang ada tanah wakaf yang cukup luas, tetapi karena Nadzirnya kurang kreatif, tanah yang kemungkinan dikelola secara produktiftersebut akhirnya tidak dimanfaatkan secara produktif tersebut akhirnya tidak dimanfaatkan sama sekali, bahkan perawatannya pun harus dicarikan sumbangan dari masyarakat.
    Di Indonesia sedikit sekali tanah wakaf yang dikelola secara produktif dalm bentuk usaha yang hasilnya dapat dimanfaatkan bagi pihak- pihak yang memerlukan termasuk fakir miskin. Pemanfaatan tersebut dilihat dari segi sosial khususnya untuk kepentingan keagamaan memang efektif, tetapi dampaknya kurang berpengaruh positif bagi ekonomi masyarakat. Apabila perentukan wakaf dalm hanya terbatas pada hal- hal diatas tanpa diimbangi dengan wakaf produktif , maka wakaf sebagai salah satu sarana untuk menwujudkan kesejahteraan sosial ekonomi masyarakat, tidak akan dapat terreleasasikan secara optimal.
    Sebagaimana kita rasakan bersama kondisi perekonomian di Indonesia sangat memperihatinkan. Berjuta-juta saudara kita hidup di bawah garis kemiskinan. Pemerintahan telah melakukan berbagai usaha untuk menanggulangi perekonomian kita yang makin buruk, antara lain dengan mencari dana pinjaman keluar negeri.
    Dalam kondisi yang demikian, sesungguhnya di samping instrumen-instrumen ekonomi islam lainnya seperti zakat, infaq dan sedekah dan lainya masih ada lembaga yang sangat untuk dikembangkan yakni wakaf, karena wakaf yang dikelola secara produktif dapat membantu menyelesaikan masalah ekonomi masyarakat. Peruntukkan dan pengelolahan wakaf di indonesia yang kurang mengarah pada pemberdayaan ekonomi cenderung hanya untuk kepentingan kegiatan-kegiatan ibadah khusus dapat di maklumi, karena memang pada umumnya ada keterbatasan pemahaman umat Islam tentang hukum wakaf, misalnya mengenai harta wakaf yang boleh diwakafkan, peruntukan wakaf dan tugas Nadzir wakaf. Agar wakaf di Indonesia dapat memberdayakan ekonomi umat, maka di Indonesia perlu dilakukan paradigma baru dalam pengelilaan wakaf. Wakaf yang selama ini yang hanya peruntukannya hanya bersifat konsumtif dan dikelola secara tradisional, sudah saatnya wakaf kini dikelola secara produktif .
    Apabila wakaf ini dapat dikelola dengan produktif, niscaya akan mempercepat pengetasan kemiskinan di negeri kita. Namun semua itu memerlukan dana yang sangat besar, maka dalam suatu organisasi nirlaba, yang dikelola oleh negara maupun swasta harus mampu mempunyai strategi fundraising yang mampu membangun image di masyarakat untuk bisa menarik para donatur untuk menyumbangkan hartanya kepada organisasi nirlaba yang kita kelola, berupa tanah maupun uang ataupun barang-barang yang bisa bermanfaat bagi masyarakat banyak. Untuk itu masih banyak yang harus dibenahi agar dapat menuju era wakaf produktif.
    Manajemen fundraising memang sangat di butuhkan agar suatu organisasi itu mampu bertahan. Termasuk bagaimana organisasi nirlaba itu mampu mempertahan donatur untuk terus menyumbang ke lembaga tersebut.
    Untuk itu tugas kita sebagai ahli-ahli dalam bidang wakaf ini, untuk mengabdi guna menciptakan wakaf yang produktif, selama ini para pengelola(Nazhir) hanya mengolah wakaf secara tradisional, agar bisa memberi pelatihan supaya bisa berubah menjadi Nazhir yang profesional.
    Maka dari itu tugas BWI sebagai Badan Wakaf yang dibentuk pemerintah harus mampu mengembangkan wakaf di indonesia melalui program-program pemberdayaannya maupun dari segi penghimpunan dana atau tanah wakaf. Memang untuk sekarang BWI belum bisa memgembangkan wakaf karena beberapa hambatan-hambatan terutama masalah sosialisasi terhadap masyarakat yang belum paham mengenai definisi maupun tata cara berwakaf sehingga kadang para wakif yang ingin berwakaf menjadi enggan berwakaf karena tidak tahu tata cara berwakaf.

    BAB II
    Sejarah, visi, misi dan Strategi
    BWI
    1. Sejarah BWI
    bebas dari pengaruh kekuasaan manapun, serta bertanggung jawab kepada masyarakat. Kelahiran Badan Wakaf Indonesia (BWI) merupakan perwujudan amanat yang digariskan dalam Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2004 tentang wakaf. Kehadiran BWI, sebagaimana dijelaskan dalam pasal 47, adalah untuk memajukan dan mengembangkan perwakafan di Indonesia. Untuk kali pertama, Keanggotaan BWI diangkat oleh Presiden Republik Indonesia, sesuai dengan Keputusan Presiden (Kepres) No. 75/M tahun 2007, yang ditetapkan di Jakarta, 13 Juli 2007. Jadi, BWI adalah lembaga independen untuk mengembangkan perwakafan di Indonesia yang dalam melaksanakan tugasnya bersifat
    BWI berkedudukan di ibukota Negara Kesatuan Republik Indonesia dan dapat membentuk perwakilan di Provinsi dan/atau Kabupaten/Kota sesuai dengan kebutuhan. Dalam kepengurusan, BWI terdiri atas Badan Pelaksana dan Dewan Pertimbangan, masing-masing dipimpin oleh oleh satu orang Ketua dan dua orang Wakil Ketua yang dipilih dari dan oleh para anggota. Badan pelaksana merupakan unsur pelaksana tugas, sedangkan Dewan Pertimbangan adalah unsure pengawas pelaksanaan tugas BWI. Jumlah anggota Badan Wakaf Indonesia terdiri dari paling sedikit 20 (dua puluh) orang dan paling banyak 30 (tiga puluh) orang yang berasal dari unsur masyarakat .
    Keanggotaan Badan Wakaf Indonesia diangkat dan diberhentikan oleh Presiden. Keanggotaan Perwakilan Badan Wakaf Indonesia di daerah diangkat dan diberhentikan oleh Badan Wakaf Indonesia. Keanggotaan Badan Wakaf Indonesia diangkat untuk masa jabatan selama 3 (tiga) tahun dan dapat diangkat kembali untuk 1 (satu) kali masa jabatan. Untuk pertama kali, pengangkatan keanggotaan Badan Wakaf Indonesia diusulkan kepada Presiden oleh Menteri. Pengusulan pengangkatan keanggotaan Badan Wakaf Indonesia kepada Presiden untuk selanjutnya dilaksanakan oleh Badan Wakaf Indonesia.

    B. Visi, Misi, dan Strategi Badan Wakaf Indonesia
    Visi
    Badan Wakaf Indonesia mempunyai Visi:
    Terwujudnya lembaga Independen yang dipercaya masyarakat, mempunyai kemampuan dan integritas untuk mengembangkan perwakafan nasional dan internasional”.
    Misi
    Misi Badan Wakaf Indonesia
    “Menjadikan Badan Wakaf Indonesia sebagai lembaga profesional yang mampu mewujudkan potensi dan manfaat ekonomi harta benda untuk kepentingan ibadah dan pemberdayaan masyarakat”.
    C. Struktur Organisasi BWI
    Dewan Pertimbangan
    Ketua : Dr. H.M. Anwar Ibrahim (Ketua)
    Wakit Ketua : Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA
    : Drs. H. Ahmad Djunaidi
    Anggota : Dr. Mulya E. Siregar
    : H. Muhammad Abbas Aula, Lc. MHI

    Badan Pelaksana
    Ketua : Prof. Dr. KH. Muhammad Tholhah Hasan
    Wakit Ketua I : H. Mustafa Edwin Nasution, Ph.D
    Wakil Ketua II : Drs. KH. A. Hafizh Utsman
    Sekretaris : Dr.Sumuran Harahap, M.Ag.MM.MH
    Wakil Sekretaris : H.M. Cholil Nafis, Lc. MA
    Bendahara : Drs. H. Siradjul Munir
    Wakil Bendahara : Prof. Dr. Suparman, MSc

    Divisi-divisi
    Pembinaan Nazhir:
    Dr. KH. Maghfur Usman
    Dr. H. Jafril Khalil, MCL. Drs. FIIS

    Pengelolaan Wakaf:
    Prof. Dr. H. Fathurrahman Djamil, MA
    Ir. Suhaji Lestiadi
    Hubungan Masyarakat:
    Prof. Dr. Masykuri Abdillah, MA
    Ir. Muhammad Syakir Sula, AAIJ, FIIS
    Kelembagaan:
    Dr. Wahiduddin Adams, SH. MA
    Bey Sapta Utama, MSc
    Penelitian dan Pengembangan:
    Dr. Uswatun Hasanah, MA
    Dian Masyita, SE. MT
    D. Strategi BWI
    Adapun strategi untuk merealisasikan Visi dan Misi Badan Wakaf Indonesia adalah sebagai berikut:
    1. Meningkatkan kompetensi dan jaringan Badan wakaf Indonesia, baik nasional maupun internasional.
    2. Membuat peraturan dan kebijakan di bidang perwakafan.
    3. Meningkatkan kesadaran dan kemauan masyarakat untuk berwakaf.
    4. Meningkatkan profesionalitas dan keamanahan nazhir dalam pengelolaan dan pengembangan harta wakaf.
    5. Mengkoordinasi dan membina seluruh nazhir wakaf.
    6. Menertibkan pengadministrasian harta benda wakaf.
    7. Mengawasi dan melindungi harta benda wakaf.
    8. Menghimpun, mengelola dan mengembangkan harta benda wakaf yang berskala nasional dan internasional.
    Program kerja Badan Wakaf indonesia
    A. Divisi pembinaan Nadzir
    Dalam rangka melaksanakan tugasnya sebagai pembina nadzir, Divisi Pembinaan Nadzir menyusun program sebagai berikut:
    1. Mneyusun Kurikulum sebagai Pelatihan Nadzir.
    2. Menyusun modul untuk pelatihan nadzir oleh tim khusus yang dibentuk oleh pengurus BWI.
    3. Modul dan Kurikulum yang sudah disusun oleh tim khusus, diteliti dan diuji oleh tim khusus, diteliti dan diuji oleh divisi Litbang.
    4. Mengadakn Lokakarya mengenai kurikulum dan modal yang akan dipergunakan untuk Pelatihan Nadzir.
    5. Menyelenggarakan Pelatihan- pelatihan Nadzir.
    B. Divisi Pengelolaan dan Pengembangan Wakaf
    1. Pemetaan Tanah Wakaf untuk Tujuan Produktif
    Berdasrkan data dari Departemen Agama RI, di Indonesia terdapat tanah Wakaf sebanyak 366.595 lokasi, dengan luas tanah 2.686.536.565,68 m2.
    Pemetaan tanah wakaf ini akan dilakukan bersinergi bersama divisi- divisi lain yang terkait. Pemetaan tanah yang bertujuan produktif ini bertujuan produktif ini mempunyai arti penting bagi keberadaan BWI,karena:
    a. Memberi arah bagi upaya peningkatan produktivitas pengelolaan harta wakaf.
    b. Mwmberdayakan potensi harta wakaf yang sudah ada, bekerja sama dengan Nadzir seteempat
    c. Merupakan wujud nyata kontribusi BWI dalam bentuk bantuan dan Manajemen BWI kepada para Nadzir setempat.
    Sedangkan wilayah pemetaan akan dibuat mudah yakni dengan membagi menjadi area pemetaan menjadi:
    a. Jawa dan Sumatra
    b. Luar Jawa atau Sumatra
    c. Pusat Kota
    d. Pusat Industri
    e. Pusat Argoindustri, dan Kategori lain.
    2. Program Penghimpunana Dana Wakaf Uang
    a. Penghimpunan pola umum (general cash waqf), yakni suatu program penghimpunan dana wakaf yang dilakukan oleh BWI secara umum tanpa dikaitkan atas suatu projek investasi tertentu.
    b. Penghimpunan Pola Khusus (special/ restricted cash waqf)
    Penghimpunana dana wakaf dengan pola ini, dilakukan secara khusus yakni terkait pada project investasi harta wakaf yang akan dilaksanakan oleh BWI, dan atau terkait pada peruntukan harta wakaf, misalnya project pemberdayaan ekonomi pada masyarakat dan atau masalah sosial (kemiskinan, pengangguran, pendididkan, keaehatan) disuatu tempat.
    . 3. Divisi Kelembagaan
    Untuk melaksanakan berbagai tugas dan fungsi Badan Wakaf Indonesia, perlu disiapkan peraturan pedoman dan petunjuk teknis pelaksanaannya sebagai tindak lanjut pengaturan sebagai tindak lanjut pengaturan naik yang diperintahkan secara langsung oleh undang- undang Nomor 41 tahun 2004tentang wakaf maupun maupun Peraturan Pemerintahannya Nomor 42 tahun 2006.
    Berbagai peraturan, pedoman dan petunjuk teknis pelaksanaan adalah sebagai berikut:
    1. Menyiapkan Peraturan Badan Wakaf Indonesia tentang:
    a. Syarat Calon Anggota BWI
    b. Tata Cara Pengangkatan dan Pemberhentian Anggota BWI
    c. Tata Cara Pemilihan Calon anggota BWI
    d. Penggantian Antar Waktu Anggota BWI
    e. Susunan Organisasi, Tugas, Fungsi, Persyaratan, dan Tata Cara Pemilihan Anggota dan Tata Kerja BWI
    2. Menyiapkan dan menyusun Pedoman Penyelesaian Sengketa Mengenai Perwakafan baik Musyawarah, Mediasi, Arbitrase atau Pengadilan.
    3. Menyiapkan, Menyusun Pedoman Hubungan Kerja, Mekanisme Hubungan dengan Departemen Agama dalam ranaka persetujuan dan atau izin atas Perubahan Peruntukan dan Status Harta Benda Wakaf (bersama Departemen Agama dan MUI).
    4. Menyiapkan pedoman hubungan kerja antar BWI, Departemen Agama RI dan Nadzir.
    5. Pengembangan Lembaga (Capacity Building).
    6. Workshop Koordinasi BWI dengan perwakilan BWI diPropinsi, Kabupaten/ Kota (Bersama Departemen Agama dan MUI).
    7. Workshop Penyusunan Fiqh Wakaf (bersama Departeman Agama dan MUI).
    8. Memberikan rekomendasi persetujuan dan atau izin perubahan peruntukan dan status harta benda wakaf.
    9. Memberikan rekomendasi persetujuan atau penukuran harta benda wakaf.
    10. Penerbitan kebijakan dan prosedur pengelolaan Wakaf Produktif.

    C. Divisi Hubungan Masyarakat:
    1. Program Publikasi dan Edukasi Publik.
    a. Penulisan Wakaf secara berkala.
    b. Liputan tentang kegiatan/ proyek percontohan BWI.
    c. Workshop dan Seminar
    d. Talkshow
    e. Penerbitan Buku
    f. Event
    g. Website
    h. Brosur dan Spanduk
    i. Sosialisasi ke Daerah
    D. Divisi Penelitian dan Pengembangan
    Adapun program divisi penelitian dan pengembangan adalah sebagai berikut:
    1. Menginventarisir Aset- aset Wakaf di seluruh Indonesia bekerja sama dengan Departemen Agama RI dan berkoordinasi dengan divisi- divisi lainnya.
    2. Memetakan dan menganlisis petensi Ekonomi dari setiap Aset Wakaf dengan berkoordinasi dengan divisi lain yang berkaitan.
    3. Menghasilkan Publikasi Ilmiah dan Populer mengenai perwakafan.
    4. Bersama Divisi Humas, Divisi penelitian, dan Pengembangan bersinergi untuk mengatur Strategi dan mekanisme sosialisasi Wakaf harta benda benda bergerak.
    5. Dengan divisi kelembagaan merumuskan mekanisme kelembagaan yang berperan dala penerapan benda wakaf bergerak ini.
    6. Dengan Divisi pengelolaan dan Pengembanempelajari instrumen portofolio investasi Wakaf benda bergerak yang menguntungkan, sekaligus mekanisme pendistribusian keuntungannya.
    7. Dengan Divisi ngeloaan dan pengembangelakukan pilot project untuk penerapan Wakaf benda bergerak ini di beberapa wilayah dan mengkaji kelebihan serta kekurangan setips emplementasi.
    8. Berkoordinasi dengan Divisi Hubungan Masyarakat untuk mengelola website BWI dalam publikasi hasil riset divisi penelitian dan pengembangan dan yang lainnya.
    9. Melakukan studi banding dengan salah satu cara untuk mendapatkan informasi dan belajar.

    BAB III
    Fundraising BWI
    1. Manajemen Fundraising
    Manajemen Fundraising adalah bagaimana upaya kita menpegaruhi para donatur untuk mengeluarkan dananya. Bagi setiap organisasi nirlaba harus mempunyai manajemen Fundraising, apabila suatu tidak mempunyai manajemen fundraising otomatis organisasi itu akan memhancur secara cepat, maka dari itu Manajemen Fundraising sangat dibutuhkan oleh suatu lemabaga atau badan nirlaba.
    Dalam melakukan penghimpunan dana kita harus melakukan pendekatan secara intern kepada para donatur, dengan cara terlebih dahulu mengendentifikasi donatur. Cara inditifikasi donatur yaitu:
    a. mendekati dan mencari donatur.
    Dalam mencari dan mendekati para donatur kita harus terlebih dahulu mengetahui Profil, kebiasaan dan gaya hidup para donatur. Agar kegiatan Fundrasing berkerja secara efektif dan efisiensi
    b. memuaskan kebutuhan donatur .
    sebagai manager Fundraising setelah mengetahui porfil dari donatur kita harus mengetahui keinginan, harapan, dan selera dari donatur, guna para donatur bertahan untuk mengeluarkan harta ke lembaga yang kita tawarkan.
    2. penghimpunan dana wakaf uang di BWI
    A. Penghimpunan pola umum(general cash waqf),
    yakini suatu program penghimpun dana wakaf yang dilakukan BWI secara umum tanpa dikaitkan atas suatu projek Investasi tertentu. Dalam melakukan penghimpunan dana wakaf uang ini, BWI akan membuka rekening di Bank Syariah tersebut,dan para wakif dapat menyerahkan KeBWI melalui kantor-kantor layanan Bank Syariah.dimaksud. dana wakaf yang yang dipeoleh dari program ini akan dikumpulkan dalam satu rekening penampungan investasi sebagai bentuk pool of fund, untuk selanjutnya akan di investasikan dadalam projek investasi harta wakaf yang sesuai dengan kreteria investasi. Dalam upaya meningkatkan image dan branding BWI, maka akan dicanangkan gerakan wakaf nasional oleh Presiden diikuti dengan wakil Presiden , DPR, DPD. Para pejabat negara, penjabat pemda, ulama pengusaha, akedemisi , artis tokoh-tokoh lain. Guna lebih membangkitkan minat dan perhatian masyarakat luas, BWI menetapkan motto “Wakaf Produktif” upaya pengetasan kemiskinan”. BWI juga mendorong lembaga-lembaga penghimpun dana wakaf untuk berkerjasama dengan LKS mengerakkan wakaf.
    B. Penghimpunan Pola Khusus(special/restricted cash waqf)
    Penghimpunan dengan pola ini, dilakukan secara khusus yakni terkait pada projek investasi hartawakaf yang akan dilaksanakan oleh BWI, atau terkait pada aspek peruntukkan harta wakaf, misalnya projek pemberdayakan ekonomi masyarakat dan masalah sosial(kemiskinan, pendidikan, kesehatan, pengangguran) di suatu tempat melalui program wakaf Produktif dapat mentapkan jenis investasi wakaf atau bahkan ikut serta mengolah investasi tersebut dan atau terlibat pada penyaluran peruntukan harta wakaf. Sebagai contoh misalnya BWI bermaksud melaksanakan projek penbangunan apartemen sehatIslam pada suatu tanah wakaf yang strategis, maka untuk keperluan ini dapat dihimpun program pendanaan secara khususuntuk pembangunan apartemen itu. Nnantinya untuk projek seperti ini, bial diperlukan dikobinasikan dengan model penghimpunan dana secara komersil berkerja sama dengan investor.atas penghimpunan dengan pola khusus ini akan dibentuk pula rekening penampungan khusus di Bank Syariah yang pisahkan dari rekening penghimpunan dana wakaf pola umum.
    3. Pembangunan Gedung Wakaf Center
    Gedung Wakaf Center merupakan bagunan komersil bertingkat yang sekaligus berfungsi sebagais pusat wakaf Indonesia dimana pada gedung ini akan berkantor BWI.
    Sumber dana yntuk pembangunan gedung dapat berasal dari:
    a. Wakaf Pemerintahan Republik Indonesia
    b. Wakaf Negara- negara Islam
    c. Wakaf Bank- bank Islam Dunioa dan di Indonesia
    d. Bantuan dari badan- badan wakaf Internasional
    e. Wakaf Pengusaha Indonesia dan Internasional
    f. Kerjasama komersial dengan Investor lokal dan Internasional
    4. Program Investasi Harta Wakaf
    Kegiatan Investasi dilakukan dalam upaya mengembangkan, mendayagunakan dan memberi nilai tambah ekonomi, serta meningkatkan nilai manfaat sosial atas harta wakaf. Kegiatan investasi ditujukan pada sektor riil yang menguntukan sesuai target market dan risk acceptance criteria. Kegiatan ini akan dijalankan dengan menggunakan dana wakaf yang dihimpun sesuai program wakaf umum dan atau program wakaf khusus, serta dapat juga dilakukan penghimpunan dana dengan pola kerjasama investasi ynag bersifat komersial dari para investor menggunakan pola musyarakah, ijaroh, dan pola investasi.komersial lainnya sesuai dengan syariah.
    Hasil W awancara.
    Pada saat kunjungan ke BWI, bertemu dengan bpk. Rahmat Rahlan pada bagian litbang, beliau mengatakan bahwa BWI sudah banyak mengalami kemajuan, mulai membangun Rumah sakit , apertemen dan lain sebagainya dengan dana wakaf yang terkumpul. Ia juga mengatakan bahwa BWI adalah salah satu Badan wakaf yang telah di audit data keuangan secara eksternal pada bulan November 2009… tentang hal penghimpunan dana, beliau menjawab: BWI tidak pernah mencari wakif atau donatur, melainkan Bwi hanya memjalin kerjasama dengan beberapa bank pemerintah maupun swasta dan hanya melakukan sosialisasi dan pengenalan wakaf uang terhadap masyarakat. Setiap mitra kerja sama BWI seperti Bank Mega Syariah, Bank syariah Mandiri, Bank Mualamalat, Bank DKI Jakarta, dan Bank Negara Indonesia(BNI). Semua mitra tersebut sudah di tetapkan sebagai lembaga keuangan syariah yang peneriman harta benda wakaf berupa uang, melalui keputusan menteri Agama, karana menurut undang-undang No:41 tahun 2004 tentang wakaf dipandang perlu menetapkan Bank yang memiliki Lembaga Keuangan Syariah sebagai penerima wakaf berupa uang.. jadi setiap mitra kerja sama BWI harus mendapat romendasi dari Deputi Gebernur BI (Bank Indonesia) dan Rokemendasi Badan Wakaf Indonesia. Baru secara resmi ditetapkan oleh Menteri Agama Republik Indonesia sebagai PPAIW .

    Semua lembaga keuangan syariah yang berkerjasama dengan BWI untuk menghimpun dana wakaf uang, harus melaporkan nama-nama dan wilayah kerja atau setiap penggantian PPAIW, kepada menteri Agama dalam hal ini direktur bimbingan masyarakat Islam.
    Laporan keuangan BWI

    Per 28 Februari 2010
    Dalam satuan Rupiah

    1 Rekapitulasi Fundraising Wakaf
    1 Wakaf Uang
    Bank Syariah Mandiri 647.008.339
    BNI Syariah 114.405.175
    Bank Muamalat 38.669.000
    Bank mega Syariah 43.528.679
    Bank DKI Syariah 37.273517
    Jumlah Wakaf Uang 884.880.770

    2 Wakaf Tanah 2.348 M2 Serang, Banten 375.680.000

    Total (1)+(2) 1.256.564.770

    2 Rekapitulasi Pengelolahan dan Pengembangan Wakaf
    jumlah Investasi hasil Investasi

    1 Giro 5 PWU 580.884.770 336.374
    2 Deposito Bank Syariah Mandiri 300.000.000
    3 Rumah sakit ibu dan anak (RSIA) 582.328.000

    Total Wakaf 1.463.212.770 336.374

    Tanggal pembuatan Deposito tanggal 4 Februari 2010dalam jangka waktu 1 tahun(ARO)
    Wakaf tanah 2.348 m2 Serang, Banten dikembangkan dalam bentuk RSIA, pembangunan sampai dengan
    28/02/2010 masih dalam proses pengerjaan,sumber dana bantuanpembiayaan wakaf produktif BWI

    3 Rekapitulasi Pemanfaatan hasil Investasi Wakaf
    Bagi Hasil Pemanfaatan
    Peruntukkan Bagi Hasil

    1 Giro 5 PWU 329.736
    2 Deposito Bank Syariah Mandiri
    3 Rumah Sakit Ibu dan Anak

    Total Wakaf 329.736 Nihil

    Jumlah 329.736 diambil dari bagi hasil peruntukkan sebesar 90% dari Investasi
    Sumber data : www. BWI or.id

    Bab IV
    Kesimpulan dan Saran

    A. Kesimpulan.
    Setelah dikeluarkan UU No 41 Tahun 2004 mengenai wakaf, yang kemudian dikeluarkan PP No 42 Tahun 2006, tentang pelaksanaan wakaf. Maka secara otomatis diperlukan badan yang mengurus total dengan mengenai perkembangan Wakaf. Maka pada tanggal 13 juli 2007 secara resmi didirikan oleh presiden yaitu Badan Wakaf Indonesia (BWI). Yang di harapkan bisa menjadi suatu lembaga wakaf yang berperan dalam masyrakat untuk pengetasan kemiskinan. BWI sebagai Lembaga yang dibentuk oleh negara memegang peran strategis. BWI memiliki banyak peluang dan banyak pula tantangan.
    Maka dari itu diperlukan manajemen fundraising yang handal.untuk menghimpun dana dari para donatur. masih banyak yang harus dibenahi dalam kinerja BWI untuk mencari donatur dan trust donaturnya. Dengan strategi Fundraising yang sekarang BWI mampu menjalin kerja sama dengan beberapa Bank seperti Bank Muamalah, Bank Syariah Mandiri, Bank Mega Syariah, BNI Syariah dan Bank DKI Syariah.. untuk itu BWI mempunyai strategei yang cukup baik,
    2. Saran
    Dengan didirikan BWI memang cukup bagus. Namun dengan umur BWI yang berdiri sekitar tahun 2007. belum bisa memenuhi kinerja sebagai lembaga yang bergerak dibidang wakaf. Dikarenakan BWI tidak mencari donatur melainnkan hanya melakukan sosialisasi, penyuluhan terhadap wakaf atau pengenalan terhadap wakaf. Jadi ini nilai kurang efektif, karena Wakif jadi enggan dan tidak mau menaruh harta wakafnya ke BWI.

    DAFTAR PUSTAKA
    1. BWI, Profil badan wakaf indonesia, BWI,2008
    2. Bimas Islam,Panduan pemberdayaan Tanah wakaf Produktif Strategi, Depag, n Jakarta.2008
    3. UU NO 41 TAHUN 2004
    4. UU NO 42 TAHUN 2008
    5. Http// www.BWI.or.id
    6. Bimas Islam, pendoman wakaf, Depag

    Leave a reply