blog ekonomi syariah zakat wakaf kawafi
RSS icon Email icon Home icon
  • Musyarakah

    Posted on Oktober 17th, 2011 mizan sukroni No comments

    PRODUK PERBANKAN SYARIAH

    Penyaluran Dana: Musyarakah

    Makalah

    Penyusun:

    Alfado Agustio

    Mizan Sukroni

    Saidah

    PS 5 E

    JURUSAN PERBANKAN SYARIAH

    FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM

    UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

    JAKARTA

    2011

    A. Pengertian

    Syirkah yang berasal dari kata syaraka-yusyriku-syarkan-syarikan-syirkatan (syirkah), Secara bahasa syirkah atau musyarakah berarti mencampur. Dalam hal ini mencampur satu modal dengan modal yang lain sehingga tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Dalam istilah fikih syirkah adalah suatu akad antara dua orang atau lebih untuk berkongsi modal dan bersekutu dalam keuntungan.

    Istilah Musyarakah menurut Bank Indonesia yang tertulis pada Kodifikasi Produk Perbankan Syariah tahun 2008, adalah transaksi penanaman dana dari dua atau lebih pemilik dana dan/atau barang untuk menjalankan usaha tertentu sesuai syariah dengan pembagian hasil usaha antara kedua belah pihak berdasarkan nisbah yang disepakati, sedangkan pembagian kerugian berdasarkan proporsi modal masing-masing. Sedangkan dalam kitab Bidayatul Mujtahid, musyarakah adalah kerjasama antara dua pihak atau lebih untuk suatu usaha tertentu dimana masing-masing pihak memberikan kontribusi dana dengan kesepakatan bahwa keuntungan dan resiko akan ditanggung bersama sesuai dengan kesepakatan.

    B. Landasan Syariah

    1. al-Qur’an

    Dan sesungguhnya kebanyakan dari orang-orang yang berkongsi itu benar-benar berbuat zalim kepada sebagian lainnya kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal sholeh dan amat sedikitlah mereka ini….”. (Q.S. Shaad: 24).

    Ayat ini mencela perilaku orang-orang yang berserikat dalam berdagang dengan menzalimi sebagian dari mitra mereka. Ayat al-Qur’an ini jelas menunjukkan bahwa syirkah pada hakekatnya diperbolehkan oleh risalah-risalah yang terdahulu dan telah dipraktekkan.

    2.Hadits
    Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW bersabda : Sesungguhnya Allah SWT telah berfirman : Aku adalah mitra ketiga dari dua orang yang bermitra selama salah satu dari kedunya tidak mengkhianati yang lainnya. Jika salah satu dari keduanya telah mengkhianatinya, maka Aku keluar dari perkongsian itu”. (H.R. Abu Dawud dan al-Hakim.) Arti hadis ini adalah bahwa Allah SWT akan selalu bersama kedua orang yang berkongsi dalam kepengawasanNya, penjagaanNya dan bantuanNya. Allah akan memberikan bantuan dalam kemitraan ini dan menurunkan berkah dalam perniagaan mereka. Jika keduanya atau salah satu dari keduanya telah berkhianat, maka Allah meninggalkan mereka dengan tidak memberikan berkah dan pertolongan sehingga perniagaan itu merugi. Di samping itu masih banyak hadis yang lain yang menceritakan bahwa para sahabat telah mempraktekkan syirkah ini sementara Rasulullah SAW tidak pernah melarang mereka. Sehingga dapat disimpulkan bahwa Rasulullah telah meberikan ketetapan kepada mereka.

    3. Fatwa DSN No.08/DSN-MUI/IV/2000 tentang Pembiayaan Musyarakah

    Fatwa DSN No. 73/DSN-MUI/XI/2008 tentang Musyarakah Mutanaqishah

    1. C. Jenis-jenis Musyarakah

    Musyarakah terbagi atas dua macam yaitu : musyarakah kepemilikan (amlak) dan musyarakah akad (uqud). Musyarakah kepemilikan adalah dua orang atau lebih yang memiliki barang tanpa adanya akad. Hal ini terjadi karena warisan, wasiat atau kondisi lainnya. Sedangkan musyarakah dengan akad terbagi menjadi :[1]

    1. al-inan : syirkah al-inan adalah kontrak antara dua orang atau lebih. Setiap pihak memberikan suatu porsi dari keseluruhan dana dan berpartisispasi dalam kerja. Kedua pihak berbagi dalam keuntungan dan kerugian sebagaimana yang disepakati diantara mereka. Akan tetapi, porsi masing-masing pihak, baik dalam dana maupun bagi hasil, tidak harus identik sama. Mayoritas ulama menyepakati bolehnya musyarakah ini.
    2. mufawwadhah : adalah kontrak kerjasama antara dua orang atau lebih. Setiap pihak memberikan suatu porsi dari keseluruhan dana dan berpartisipasi dalam kerja. Setiap pihak membagikan keuntungan secara sama. Dengan demikian, syarat utama dari jenis al-musyarakah ini adalah kesamaan dana yang diberikan, kerja, tanggung jawab, dan beban utang dibagi oleh masing-masing pihak.
    3. a’mal : kontrak kerja sama dua orang seprofesi untuk menerima pekerjaan secara bersama dan berbagi keuntungan dari pekerjaan itu. Contohnya kerja sama dua orang penjahit untuk menerima orderan pembuatan seragam sebuah kantor.
    4. Wujuh : kontrak antara dua orang atau lebih yang memiliki reputasi dan prestise baik serta ahli dalam bisnis. mereka membeli barang tidak secara tunai tetapi  menjual barang tersebut secara tunai. Jenis musyarakah ini tidak memerlukan modal, kemudian keuntungan yang diperoleh dibagi di antara mereka dengan syarat tertentu atau dengan syarat yang sudah disepakati kedua belah pihak.
    1. D. Aplikasi dalam perbankan

    Dalam produk pembiayaan musyarakah, bank dan nasabah masing-masing bertindak sebagai mitra usaha dengan bersama-sama menyediakan dana dan/ atau barang untuk membiayai suatu kegiatan usaha tertentu. Nasabah kemudian bertindak sebagai pengelola usaha dan bank sebagai mitra usaha dapat ikut serta dalam pengelolaan usaha sesuai dengan akad, seperti melakukan review, meminta bukti-bukti dari laporan hasil usaha yang dibuat oleh nasabah berdasarkan bukti yang dapat dipertanggungjawabkan.

    Pembagian hasil usaha dari pengelolaan dana dinyatakan dalam bentuk nisbah yang disepakati. Nisbah tersebut tidak dapat diubah sepanjang jangka waktu investasi, kecuali atas kesepakatan kedua pihak.

    Perkembangan saat ini muncul akad Musyarakah mutanaqisah yang merupakan turunan dari akad musyarakah. mutanaqishah berasal dari kata yatanaqishu-tanaqish-tanaqishan-mutanaqishun yang berarti mengurangi secara bertahap. Musyarakah Mutanaqisah adalah Musyarakah atau Syirkah yang kepemilikan asset (barang) atau modal salah satu pihak (syarik) berkurang disebabkan pembelian secara bertahap oleh pihak lainnya. Menurut Dr. Ir. M. Nadratuzzaman Hosen, Ms., M.Sc, Ph.D[2] dalam makalahnya, musyarakah mutanaqisah (diminishing partnership) adalah bentuk kerjasama antara dua pihak atau lebih untuk kepemilikan suatu barang atau asset. Dimana kerjasama ini akan mengurangi hak kepemilikan salah satu pihak sementara pihak yang lain bertambah hak kepemilikannya. Perpindahan kepemilikan ini melalui mekanisme pembayaran atas hak kepemilikan yang lain. Bentuk kerjasama ini berakhir dengan pengalihan hak salah satu pihak kepada pihak lain. Contohnya nasabah melakukan pembiayaan rumah dengan akad Musyarakah Mutanaqisah, tahapannya adalah sebagai berikut:

    1. Konsumen melakukan identifikasi serta memilih rumah yang diinginkan
    2. Konsumen bersama-sama dengan bank melakukan kerjasama kemitraan kepemilikan rumah, sehingga bank dan konsumen sama-sama memiliki rumah sesuai dengan proporsi investasi yang dikeluarkan.
    3. Konsumen membayar biaya sewa per bulan dan dibayarkan ke bank sesuai dengan proporsi kepemilikan.
    4. Konsumen pun melakukan pembayaran kepada bank atas kepemilikan atas rumah yang masih dimiliki oleh bank

    Hasil survey:

    1. Bank Muamalat Indonesia

    • Pembiayaan Modal Kerja adalah produk pembiayaan yang akan membantu kebutuhan modal kerja usaha sehingga kelancaran operasional dan rencana pengembangan usaha  akan terjamin.
    • Pembiayaan Modal Kerja Lembaga Keuangan Mikro (LKM) Syariah adalah produk pembiayaan yang ditujukan untuk LKM Syariah (BPRS/BMT/Koperasi) yang hendak meningkatkan pendapatan dengan memperbesar portofolio pembiayaannya kepada Nasabah atau anggotanya (end-user).
    • Pembiayaan Rekening Koran Syariah adalah produk pembiayaan khusus modal kerja yang akan meringankan Anda dalam mencairkan dan melunasi pembiayaan sesuai kebutuhan dan kemampuan.
    • Pembiayaan Hunian Syariah adalah produk pembiayaan yang akan membantu Anda untuk memiliki rumah (ready stock/bekas), apartemen, ruko, rukan, kios maupun pengalihan take-over KPR dari bank lain. Aqadnya Musyarakah Mutanaqisah.

    2. Bukopin Syariah

    Pembiayaan iB Bagi hasil (Musyarakah) adalah Kerjasama 2 pihak atau lebih untuk suatu usaha tertentu, masing-masing pihak memberikan kontribusi dana dan atau karya/keahlian dengan kesepakatan keuntungan dan resiko menjadi tanggungan bersama sesuai kesepakatan

    3. BNI Syariah

    • BNI iB Wirausaha ditujukan untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan usaha Anda, dengan besarnya pembiayaan dari Rp 50 juta sampai dengan Rp 500 juta yang diproses lebih cepat dan fleksibel sesuai dengan prinsip syariah.
    • BNI iB Usaha Kecil adalah pembiayaan modal kerja atau investasi kepada pengusaha kecil sampai dengan Rp 10 miliar.
    • BNI iB Usaha Besar adalah Pembiayaan Modal Kerja atau Investasi kepada pengusaha menengah dan korporasi diatas Rp. 10 Milyar
    1. Bank Mandiri Syariah
    • Mikro Kecil adalah pembiayaan musyarakah yang plafondnya mulai dari 2 juta-10 juta dengan bagi hasil pertahun ekuivalen 36 %/tahun.
    • Mikro Menengah adalah pembiayaan musyarakah yang plafondnya mulai dari 10 juta-50 juta dengan bagi hasil pertahun ekuivalen 32 %/tahun.
    • Usaha Besar adalah pembiayaan musyarakah yang plafondnya mulai dari 50 juta-100 juta.
    1. E. Manfaat
      1. Bagi Bank [3]:
    • Bank akan menikmati peningkatan dalam jumlah tertentu pada saat keuntungan usaha nasabah meningkat.
    • Bank tidak berkewajiban membayar dalam jumlah tertentu kepada nasabah pendanaan secara tetap, tetapi disesuaikan dengan pendapatan  atau hasil usaha bank.
    • Bank lebih selektif dan hati-hati mencari usaha yang halal

    2. Bagi nasabah: Pengembalian pokok pembiayaan disesuaikan oleh cash flow atau arus kas nasabah, sehingga tidak memberatkan nasabah

    F. Risiko

    1. Risiko pembiayaan yang disebabkan oleh nasabah wanprestasi.
    2. Risiko pasar yang disebabkan oleh pergerakan nilai tukar jika pembiayaan atas dasar akad musyarakah diberikan dalam valuta asing
    3. Risiko operasional yang disebabkan oleh internal fraud (kesalahan pencatatan, penyuapan, manipulasi dan mark up)

    G. Kesimpulan

    Musyarakah merupakan salah satu pembiayaan yang diperbolehkan dalam sistem ekonomi islam. Dalam hal ini perbankan syariah bisa memanfaatkan model ini untuk meningkatkan keuntungan bank serta membantu perkembangan sektor riil. Oleh karena itu tantangan perbankan syariah di masa mendatang bagaimana mengembangkan komitmen beyond banking dengan terus meningkatkan pembiayaan tersebut karena pembiayaan musyarakah merupakan jenis pembiayaan yang dinilai adil dari dua sisi baik pihak perbankan maupun nasabah. Selain itu dengan mengembangkan model pembiayaan ini pula bisa menda’wakah bahwa sistem ekonomi islam juga dapat membantu sistem perekonomian serta bersifat adil.

    .

    DAFTAR PUSTAKA

    Antonio, Muhammad Syafi’i. 2001. Bank Syariah : Dari Teori Ke Praktik. Jakarta : Gema Insani.

    Hosen, M. Nadratuzzaman dkk.2008.MATERI DAKWAH: Ekonomi Syariah. Jakarta: PKES

    Muhammad, Rifqi. 2008. Akuntansi Keuangan Syariah, Konsep dan Implementasi PSAK Syariah. Jogjakarta : P3EI Press.

    Fatwa DSN No.08/DSN-MUI/IV/2000 tentang Pembiayaan Musyarakah

    Fatwa DSN No. 73/DSN-MUI/XI/2008 tentang Musyarakah Mutanaqishah

    UU Nomor 21 Tahun 2008 Tentang Perbankan Syariah

    http://bi.go.id//

    http://d.yimg.com//


    [1] Muhammad Syafi’I Antonio, Bank Syariah dari Teori ke Praktik, hal. 91-93

    [2] d.yimg.com/…/Makalah+Musyarakah+Mutanaqishah_Nadratuzzaman, di akses pada tanggal 16 Oktober 2011

    [3] Muhammad Syafi’I Antonio, Bank Syariah dari Teori ke Praktik, hal. 93-94

  • Mudharabah

    Posted on Oktober 17th, 2011 mizan sukroni No comments

    TUGAS MAKALAH

    Produk-produk perbankan syariah

    (pembiayaan Mudharabah)

    Disusun oleh :

    Asma Nurhayati

    Allifiana Rhamadhani

    Farhan Azhar

    Kelas : PS  5 – E

    PRODI MUAMALAT JURUSAN PERBANKAN SYARI’AH

    FAKULTAS SYARI’AH DAN HUKUM

    UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

    TAHUN AJARAN 2011/2012

    1. 1. Pengertian Mudharabah

    Mudharabah berasal berasal dari kata dharb, berarti menukul atau berjalan. Pengertian memukul atau berjalan ini lebih tepatnya adalah proses seseorang memukulkan kakinya dalam menjalankan usaha.

    Secara teknis al-mudharabah adalah akad kerja sama usaha antara dua belah pihak dimana pihak pertama (sahobul maal) menyediakan seluruh(100%) modal, sedangkan pihak lainnya sebagai pengelola. Keuntungan usaha secara mudharabah dibagi berdasarkan kesepakatan yang dituangkan kedalam kontrak, sedangkan pihak rugi ditanggung oleh pemilik modal selama kerugian itu bukan akibat kelalaian si pengelola. Seandainya kerugian itu diakibatkan karena kecurangan atau kelalaian si pengelola, si pengelola harus bertanggung jawab atas kerugian tersebut.[1]

    1. 2. Landasan Hukum Mudharabah

    Ulama fiqih sepakat bahwa mudharabah disyariatkan dalam islam berdasarkan dalam islam berdasarkan Al-quran, sunah, ijma’, dan qiyas.

    1. Al-quran

    “… dan dari orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia allah SWT….” (Qs al-mujammil:20)

    Yang menjadi wajhud-dilalah atau argument dari surah al muzzammil:20 adalah adanya kata yadhribun yang sama dengan akar kata mudharabah yang berarti melakukan sesuatu perjalanan usaha.

    10.  Apabila Telah ditunaikan shalat, Maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.(QS. Al-jumu’ah:10)

    198.  Tidak ada dosa bagimu untuk mencari karunia (rezki hasil perniagaan) dari Tuhanmu. (QS.Al baqarah:198)

    Surah al jumu’ah :10 dan al- Baqarah:198 sama –sama mendorong kaum muslimin utuk melakukan upaya perjalanan usaha.

    .

    1. As-sunah

    “tiga perkara yang mengandung berkah adalah jual beli yang ditangguhkan , melakukan qiradh, dan yang mencampurkan gandunm dengan jelas untuk keluarga ,bukan untuk diperjual belikan.”(HR. Ibnu Majah dari Shuhaib)

    1. Ijma’

    Di antara ijma dalam mudharabah adanya riwayat yang mengatakan bahwa jemaah dari sahabat menggunakan harta anak yatim untuk mudharabah , perbuatan tersebut tidak ditentang oleh sahabat lainnya.

    1. Qiyas

    Mudharabah diqiyaskan kepada al musyaqah(menyuruh seseorang untuk mengelolah kebun). Selain di antara manusia ada yang miskin dan ada yang kaya . di satu sisi banyak orang kaya yang tidak dapat mengusahakan hartanya. Di sisi lain banyak orang miskin yang mau bekerja tapi tidak memiliki modal. Dengan demikian, adanya mudharabah di tunjukkan antara lain untuk memenuhi kebutuhan kedua golongan di atas, yakni kemaslahatan manusia dalam rangka memenuhi kebutuhan mereka.[2]

    1. 3. Rukun Mudharabah
    • Dua orang yang melakukan aqad
    • Modal
    • Shighat
    • Pekerjaan
    • Laba
    1. 4. Jenis-Jenis Mudharabah

    Secara umum ,mudharabah terbagi menjadi dua jenis:

    1. a. Mudharabah muthlaqah, adalah bentuk kerjasama antara sahaibul maal dan mudharib yang cakupannya sangat luas dan tidak dibatasi oleh spesifikasi jenis usaha, waktu, dan daerah bisnis. Dalam pembahasan fiqih ulama salafus shaleh seringkali di contohkan dengan ungkapan if’al ma syi’ta(lakukanlah sesukamu) dari shahibul maal ke mudharib yang member kekuasaan sangat besar.
    2. b. Mudharabah muqayadah atau disebut juga dengan istilah restricted mudharabah (specified mudharabah),adalah  kebalikan dari mudharabah muthlaqah. Si mudharib dibatasi dengan jenis usaha, waktu, atau tempat usaha. Adanya pembatasan ini seringkali mencerminkan kecenderungan umum si shahibul maal dalam memasuki jenis dunia usaha.
    3. 5. Aplikasi Dalam Perbankan

    Al-mudharabah biasanya diterapkan pada produk-produk pembiayaan dan pendanaan.

    • Pada sisi  penghimpunan dana ,al mudharabah diterpkan pada :
    1. a. Tabungan berjangka, yaitu tabungan yang diamaksutkan untuk tujuan khusus, seperti tabungan haji, tabungan kurban, dan sebagainya; depositi biasa;
    2. b. Deposito special(special investment), di mana dana yang dititipkan nasabah khusus untuk bisnis tertentu, misalnya mudharabah saja atau ijarah saja.
    • Adapun pada sisi pembiayaan, mudharabah ditetapkan untuk:
    1. Pembiayaan modal kerja, seperti modal kerja perdagangan dan jasa;
    2. Investasi khusus, disebut juga mudharabah muqayadah, dimana sumber dana khusus dengan penyaluran yang khusus dengan syarat-syarat yang telah ditetapkan oleh shahibul maal.
    3. 6. Manfaat Mudharabah
    4. Bank akan menikmati peningkatan bagi hasil pada saat keuntungan usaha nasabah meningkat.
    5. Bank tidak berkewajiban membayar bagi hasil kepada nasabah pendanaan secara tetap, tetapi disesuaikan dengan pendapatan/ hasil usaha bank sehingga bank tidak akan pernah mengalami negative spread
    6. Pengembalian pokok pembiayaan disesuaikan denagan cash flow/ arus kas usaha nasabah sehingga tidak memberatkan nasabah
    7. Bank akan lebih selektif dan hati-hati (prudent) mencari usaha yang benar-benar halal, aman, dan menguntungkan karena keuntungan yang konkret dan benar-benar terjadi itulah yang dibagikan.
    8. Prinsip bagi hasil dalam mudharabah / musyarakah ini bebeda dengan prinsip bunga tetap dimana bank akan menagih penerima pembiayaan(nasabah) satu jumlah bunga tetap berapapun keuntungan nasabah, sekalipun merugi dan terjadi krisis ekonomi.
    1. 7. Risiko Mudharabah

    Risiko yang terdapat dalam mudharabah, terutama dalam penerapannya dalam pembiayaan, relative tinggi diantaranya:

    1. Side streaming; nasabaah menggunakan dana itu bukan seperti yang disebut dalam kontrak;
    2. Lalai dan kesalahan yang disengaja;
    3. Penyembunyian keuntungan oleh nasabah bila nasabahnya tidak jujur[3]

    Secara umum aplikasi perbankan mudharabah dapat digambarkan dalam skema berikut ini

    Sekema mudharabah

    1. 8. Beberapa jenis usaha yang bisa dibiayai dengan pembiayaan mudharabah

    Dari pengamatan dilapangan ternyata banyak sekali jenis usaha yang cocok dan aman dibiayai dengan pembiayaan mudharabah. Dengan demikian, persoalan yang sebenarnya terletak pada keengganan pihak bank syariah untuk menghadapi resiko sekecil apapun. Menghindari resiko yang terlalu berlebihan tentu saja buakan sifat professional bankers. Untuk itu diperlukan latihan praktik yang dimulai dari jenis usaha yang tidak memerlulkan pembiayaan dalam jumlah besar terlebih dahulu. Berikut ini disajikan beberapa jenis usaha yang dapay dibiayai dengan pembiayaan mudharabah atas dasar prinsip profit and loss sharing.

    1. Pembiayaan mudharabah untuk usaha dagang

    Pada pembiayaan mudharabah untuk usaha dagang ini, jumlah modal yang disalurkan dapat dipergunakan untuk membeli alat peraga dan barang dagangannya serta biaya oprasional. Mudharib yang mendapat kesempatan dalam pembiayaan mudharabah ini sangat fleksibeldari pedagang asongan sampai pemilik kios distributor atau agen.

    1. Pembiayaan mudharabah untuk usaha foto kopi

    Pada pembiayaan mudharabah untuk usaha foto kopi, wartel dan warnet ini, jumlah modal yang disalurkan di pergunakan untuk membeli atau menyewa mesin-mesin dengan semua peralatan dan fasilitas yang diperlukan serta biaya oprasional. Jangka waktu pemyelesaian pembiayaan dan bagi hasil berfariasi tergantung kepada umur teknis dari mesin yang pengadaannya dibiayai oleh bank sebagai modal usaha. Mudharib yang mendapatkan kesempatan , dapat sangat fleksibel mulai dari penyewa kios dikampus atau di pasar sampai perusahaan yang berbadan hokum perseroan atau koprassi.

    1. Pada pembiayaan mudharabah untuk usaha jasa angkutan.

    Mudharib yang mendapat kesempatan , juga sangan fleksibel mulai dari perorangan(penarik ojek) sampai perusahaan angkutan umum yang berbentuk hokum perseroan atau koprasi.

    1. Pada pembiayaan mudharabah untuk usaha jasa konstruksi

    Pada pembiayaan mudharabah untuk usaha jasa konstruksi ini, jumlah modal yang disalurkan biasanya dalam bentuk plafon dana yang besarnya berfariasi tergantung pada besar kecilnya usaha yang akan dibiayai. Jangka waktu penyelesaian pembiayaan dan berbagai hasil dalam hal ini berfariasi tergantung kepada jangka waktu penyelesaian bagunan yang didirikan atau jangka waktu penyelesaian renovasi atau kontrak pemeliharaan. Mudharib yang mendapat kesempatan, dapat sangat fleksibel mulai dari pengusaha jasa, pemeliharaan gedung, sampai kontraktor yang membangun rumah tinggal dan gedung bertingkat.

    1. Pada pembiayaan mudharabah untuk usaha agro (agro bussines)

    Pada pembiayaan mudharabah untuk usaha agro ini, jumlah modal yang disalurkan dapat dipergunakan untuk membeli bibit dan pupuk serta biaya oprasional. Besarnya modal berfariasi tergantung kepada luasnya usaha agro yang akan dibiayai. Jangka waktu penyelesaian dan berbagi hassilnya pun berfariasi tergantung kepada jenis tanaman dan luas area yang digarap. Demikian pula mudharib yang mendapt kesempatan dapat sangat fleksibel, mulai dari petani kecil sampai perkebunan besar.[4]

    1. 9. Hasil Survey

    Bank Muamalat

    Pembiayaan Modal Kerja

    Pembiayaan Modal Kerja adalah produk pembiayaan yang akan membantu kebutuhan modal kerja usaha Anda sehingga kelancaran operasional dan rencana pengembangan usaha Anda akan terjamin.

    Peruntukkan :

    Perorangan (WNI) pemilik usaha dan badan usaha yang memiliki legalitas di Indonesia

    Fitur :

    1. Berdasarkan prinsip syariah dengan pilihan akad musyarakah, mudharabah, atau murabahah sesuai dengan spesifikasi kebutuhan modal kerja
    2. Dapat digunakan untuk meningkatkan atau memenuhi tambahan omset penjualan dan membiayai kebutuhan bahan baku atau biaya-biaya overhead
    3. Jangka waktu pembiayaan disesuaikan dengan spesifikasi modal kerja
    4. Plafond mulai Rp 100 juta
    5. Untuk Nasabah perorangan akan dilindungi oleh asuransi jiwa sehingga pembiayaan akan dilunasi oleh perusahaan asuransi apabila Anda meninggal dunia
    6. Pelunasan sebelum jatuh tempo tidak dikenakan denda
    7. Dapat menggunakan skema revolving maupun non-revolving (bergantung karakteristik Nasabah)
    8. Dapat memanfaatkan pembiayaan rekening koran syariah sehingga lebih memudahkan Anda dalam mencairkan pembiayaan

    Persyaratan Administratif untuk Pengajuan :

    Individu

    1. Formulir permohonan pembiayaan untuk individu
    2. Fotocopy KTP dan Kartu Keluarga
    3. Fotocopy Surat Nikah (bila sudah menikah)
    4. Fotocopy NPWP
    5. Asli slip gaji & surat keterangan kerja (untuk pegawai/karyawan)
    6. Laporan keuangan/ laporan usaha 2 tahun terakhir
    7. Fotocopy mutasi rekening buku tabungan/statement giro 6 bulan terakhir
    8. Fotocopy rekening telepon dan listrik 3 bulan terakhir
    9. Bukti legalitas jaminan (SHM/SHGB/BPKB/bilyet deposito/dll)
    10. Bukti-bukti purchase order atau Surat Perintah Kerja (SPK) jika ada

    Institusi/Perusahaan

    1. Surat permohonan pembiayaan dari manajemen/pengurus
    2. NPWP institusi yang masih berlaku
    3. Legalitas pendirian dan perubahannya (jika ada) dan pengesahannya
    4. Izin-izin usaha : SIUP, TDP, SKD, SITU, dan lainnya (jika dibutuhkan) yang masih berlaku
    5. Data-data pengurus perusahaan
    6. Laporan keuangan 2 tahun terakhir
    7. Fotocopy mutasi rekening buku tabungan/statement giro 6 bulan terakhir
    8. Bukti legalitas jaminan (SHM/SHGB/BPKB/ bilyet deposito/dll)
    9. Bukti-bukti purchase order atau Surat Perintah Kerja (SPK) jika ada

    Pembiayaan Modal Kerja LKM Syariah (BPRS/BMT/Koperasi)

    Pembiayaan Modal Kerja Lembaga Keuangan Mikro (LKM) Syariah adalah produk pembiayaan yang ditujukan untuk LKM Syariah (BPRS/BMT/Koperasi) yang hendak meningkatkan pendapatan dengan memperbesar portfolio pembiayaannya kepada Nasabah atau anggotanya (end-user).

    Peruntukkan :

    Badan usaha Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS), Baitul Maal wat Tamwil (BMT), dan Koperasi yang dapat menjalankan skema syariah atas pembiayaan kepada anggotanya

    Fitur :

    1. Berdasarkan prinsip syariah dengan akad mudharabah atau musyarakah
    2. Digunakan untuk memperbesar modal dalam menyalurkan pembiayaan kepada Nasabah atau Anggota dengan pola executing (bank terlepas dari perikatan kepada end-user)
    3. Jangka waktu pembiayaan maksimal 5 tahun
    4. Plafond mulai Rp 100 juta
    5. Pelunasan sebelum jatuh tempo tidak dikenakan denda
    6. Dapat menggunakan skema revolving maupun non-revolving (bergantung karakteristik BPRS/BMT/Koperasi)

    Bukopin syariah

    Kerjasama antara pemilik modal dan pengelola untuk suatu usaha tertentu dengan kesepakatan bagi hasil

    a. Manfaat
    • Usaha 100% dibiayai oleh bank
    • Dapat digunakan untuk pembiayaan modal kerja usaha
    • Sistem bagi hasil sesuai hasil proyek/usaha
    • Pembayaran dapat dilakukan sesuai dengan cash-flow
    b. Ketentuan
    • Perorangan dan badan usaha
    • Jangka waktu sesuai penyelesaian proyek
    • Nilai guna agunan 125% dari plafond pembiayaan
    c. Akad
    • Akad yang digunakan adalah Mudharabah
    • Mudharabah adalah kerjasama antara Bank dengan nasabah, dimana pihak bank menyediakan seluruh modal dan nasabah sebagai pengelola dengan pembagian keuntungan berdasarkan nisbah bagi hasil yang telah disepakati

    BNI Syariah

    BNI iB WIRAUSAHA
    BNI iB Wirausaha (iB diabaca aibi, = islamic Banking) ditujukan untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan usaha Anda, dengan besarnya pembiayaan dari Rp 50 juta sampai dengan Rp 500 juta yang diproses lebih cepat dan fleksibel sesuai dengan prinsip syariah.

    Jenis akad yang digunakan :
    Murabahah adalah prinsip jual beli barang dengan menyatakan harga perolehan dan keuntungan (margin) yang disepakati antara bank sebagai penjual dan nasabah sebagai pembeli.

    Mudharabah adalah kerjasama antara pihak bank sebagai penyedia dana 100 % sedangkan nasabah menjadi pengelola dana dengan keuntungan dibagi menurut kesepakatan nisbah bagi hasil.

    Musyarakah adalah kerjasama dalam penyertaan modal antara pihak bank dan nasabah dengan keuntungan dibagi menurut kesepakatan nisbah bagi hasil.

    Keunggulan :

    1. Proses lebih cepat dengan persyaratan mudah sesuai dengan prinsip syariah.
    2. Jangka waktu pembiayaan sampai dengan 7 tahun.
    3. Mendapatkan perlindungan asuransi jiwa gratis.
    4. Pembayaran angsuran melalui debet rekening secara otomatis dan dapat dilakukan di seluruhkantor cabang BNI.

    Persyaratan Umum :

    1. Usaha telah berjalan minimal 1 tahun, dan usaha sesuai syariah
    2. Mengisi formulir aplikasi dengan melampirkan fotocopy.
      1. KTP suami/isteri dan kartu keluarga.
      2. Surat Nikah.
      3. NPWP.
      4. Pembiayaan sampai dengan Rp 150 juta dilengkapi dengan surat keterangan kelurahan/kecamatan.
      5. Untuk pembiayaan diatas Rp 150 juta dielngkapi dengan legalitas usaha.
      6. Bukti kepemilikan jaminan.

    BNI iB USAHA KECIL
    BNI iB Usaha Kecil (iB dibaca aibi = islamic Banking) adalah pembiayaan modal kerja atau investasi kepada pengusaha kecil sampai dengan Rp 10 miliar berdasarkan prinsip murabaha, musyarakah, mudharabah dan ijarah.

    Keunggulan :

    1. Rasa tenteram dan tenang karena dengan pembiayaan syariah terhindar dari transaksi ribawi.
    2. Akad murabahah akanmemudahkan anda mengelola keuangan karena besar angsuran tetap selama masa pembiayaan.
    3. Dengan akad mudharabah dan musyarakah akan memberikan rasa keadilan.
    4. Setoran angsuran dapat dilakukan di seluruh kantor cabang BNI.
    5. Variasi produk keuangan syariah yang lengkap untuk mendukung kegiatan usaha Anda.
    6. Pembiayaan dapat diberikan dalam mata uang Rupiah dan USD.

    Persyaratan Umum :

    1. Melampirkan aktivitas usaha.
    2. Identitas diri (KTP/SIM/Paspor).
    3. NPWP.
    4. Laporan aktivitas Keuangan Usaha.
    5. Menyerahkan jaminan.
    6. Kegiatan usaha telah berjalan minimal 2 tahun.

    Jenis akad BNI iB Usaha Kecil
    Jenis akad yang digunakan :
    Murabahah adalah prinsip jual beli barang dengan menyatakan harga perolehan dan keuntungan (margin) yang disepakati antara bank sebagai penjual dan nasabah sebagai pembeli.

    Mudharabah adalah kerjasama antara pihak bank sebagai penyedia dana 100 % sedangkan nasabah menjadi pengelola dana dengan keuntungan dibagi menurut kesepakatan nisbah bagi hasil.

    Musyarakah adalah kerjasama dalam penyertaan modal antara pihak bank dan nasabah dengan keuntungan dibagi menurut kesepakatan nisbah bagi hasil.

    Ijarah adalah perjanjian sewa suatu barang antara bank dengan nasabah

    BNI iB USAHA BESAR
    Sesuai dengan falsafah dasar ekonomi syariah yaitu bertransaksi dengan penuh keberkahan dan saling menguntungkan, maka produk-produk perbankan syariah didisain untuk melayani dunia usaha sehingga antara pemodal dan pengusaha dapat bertumbuh bersama-sama dalam prinsip keadilan.

    Pembiayaan Produktif dari BNI Syariah mendukung kemajuan usaha dengan cara mudah dan fleksibel berdasarkan prinsip – prinsip syariah. Cara kerja pembiayaan syariah hampir sama dengan cara kerja perbankan pada umumnya, sehingga masyarakat akan mendapati prosedur yang umum berlaku dan tidak rumit. Demikian pula dengan maksimum pembiayaan, BNI Syariah dapat membiayai korporasi yang memerlukan dana diatas Rp 10 milyar melalui BNI Pembiayaan Besar Syariah.

    BNI Pembiayaan Besar Syariah adalah Pembiayaan Modal Kerja atau Investasi kepada pengusaha menengah dan korporasi diatas Rp. 10 Milyar berdasarkan prinsip Murabahah, Mudharabah, Musyarakah dan Ijarah.

    Bank Mega Syariah

    Pembiayaan Bisnis Modal Kerja iB
    Pembiayaan Usaha Produktif Sesuai Syariah

    Pembiayaan Bisnis Modal Kerja iB dari Bank Mega Syariah adalah fasilitas pembiayaan dengan menggunakan konsep syariah mudharabah dan musyarakah dengan nisbah bagi hasil yang telah disepakati antara bank dan nasabah.

    Keunggulan :

    • Proses cepat dan persyaratan mudah.
    • Perlindungan asuransi syariah.
    • On line pembayaran angsuran diseluruh cabang Bank Mega Syariah, jaringan ATM Bersama dan ATM Prima.
    • Jangka waktu fleksibel.

      Tujuan :

    • Modal kerja usaha produktif ( pengadaan bahan baku, barang dagangan/persediaan, kebutuhan menutupi hutang / piutang usaha dan kebutuhan operasional dan ekspansi usaha lainnya).

      Plafond Pembiayaan :

    • Rp. 100.000.000 – Rp 10.000.000.000,-

      Jangka Waktu Pembiayaan :

    • 1 – 3 tahun.

      Uang Muka :

    • Minimal 20% dari total kebutuhan modal kerja.

      Persyaratan Umum :

    • Warga Negara Indonesia.
    • Perorangan, usia minimal 21 tahun dan pada saat pembiayaan lunas berusia maksimum 55 tahun.
    • Badan Hukum (PT, Yayasan, Koperasi) dengan masa usaha minimal 2 (dua) tahun memiliki kinerja baik.
    • Tidak terdaftar dalam pembiayaan bermasalah Bank Indonesia dan Bank Mega Syariah.

    Persyaratan Administratif untuk Pengajuan :

    1. Surat permohonan pembiayaan dari manajemen/pengurus
    2. NPWP institusi yang masih berlaku
    3. Legalitas pendirian dan perubahannya (jika ada) dan pengesahannya
    4. Izin-izin usaha : SIUP, TDP, SKD, SITU, dan lainnya (jika dibutuhkan) yang masih berlaku
    5. Data-data pengurus perusahaan
    6. AD/ART (untuk BMT/Koperasi)
    7. Surat kuasa pengajuan pembiayaan dari RAT kepada pengurus (untuk BMT/Koperasi)
    8. Laporan keuangan 2 tahun terakhir
    9. Fotocopy mutasi rekening buku tabungan/statement giro 6 bulan terakhir

    Daftar Pustaka

    Antonio,syafi’I. . Bank Syariah dari Teori Ke Prakter. Jakarta :Gema Insani.2001.

    Syafi’I, Rahmat.Fiqih uamalah.Bandung:Pustaka Setia.2001.

    Karnaen A.Perwataatmadja dan Hendri Tanjung.Bank Syariah teori, praktik, dan peranannya.jakarta: Celestial Publishing.jakarta:2007.


    [1]Syafi’I Antonio. Bank Syariah dari Teori Ke Prakter.Gema Insani.Jakarta:2001.hal:95

    [2] Prof.DR.H.Rachmat Syafei,Fiqih Muamalah,Bandung:Pustaka Setia,2001,hlm.224-226

    [3] Syafi’I Antonio. Bank Syariah dari Teori Ke Prakter.Gema Insani.Jakarta:2001.hal:97-98

    [4] Karnaen A.Perwataatmadja dan Hendri Tanjung.Bank Syariah teori, praktik, dan peranannya.Celestial Publishing.jakarta:2007.hal.131-133

  • SALAM

    Posted on Oktober 9th, 2011 farhan No comments

    PRODUK PERBANKAN SYARIAH

    “SALAM”

    DISUSUN OLEH :

    ANNEKE PUTRI MEILASARI (109046100184)

    FARHAN RABBANI (109046100162)

    KURNIA RATRI CAHYANI (109046100174)

    PERBANKAN SYARIAH 5E

    FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM

    UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

    KATA PENGANTAR

    Alhamdulillah, puji dan syukur kehadirat Allah SWT karena atas berkat dan rahmatnya makalah ini dapat terselesaikan dengan baik. Salam dan shalawat tak lupa kami haturkan kepada junjungan nabi Besar Muhammad SAW.

    Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas dari Bapak Riawan Amin dan Bapak Hendra Khalid selaku Dosen dari Mata Produk Perbankan Syariah.

    Terima kasih kami haturkan sedalam-dalamnya kepada semua pihak yang telah membantu terselenggarakannya makalah ini. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi semua orang.

    Tangerang Selatan, Oktober 2011

    Penulis

    1. PENGERTIAN SALAM

    Menurut UU Nomor 21 Tahun 2008 Tentang Perbankan Syariah yang dimaksud dengan akad salam adalah akad pembiayaan suatu barang dengan cara pemesanan dan pembayaran harga yang dilakukan terlebih dahulu dengan syarat tertentu yang disepakati.

    Salam Paralel berarti melaksanakan dua transaksi bai’ as-salam antara bank dan nasabah, dan antara bank dan pemasok (suplier) atau pihak ketiga lainnya secara simultan.

    Banyak orang yang menyamakan ba’i as-salam dengan ijon, padahal terdapat perbedaan besar diantara keduanya. Dalam ijon barang yang dibeli tidak diukur atau ditimbang secara jelas dan spesifik. Demikian juga penetapan harga beli, sangat bergantung kepada keputusan sepihak si tengkulak yang sering kali sangat dominan dan menekan petani yang posisinya lebih lemah.

    Adapun transaksi ba’i as-salam mengharuskan adanya dua hal berikut.

    1. Pengukuran dan spesifikasi barang yang jelas.
    2. Adanya keridhaan yang utuh antara kedua belah pihak.[1]
    3. TUJUAN SALAM

    Transaksi salam dilakukan karena pembeli berniat memberikan modal kerja terlebih dahulu untuk memungkinkan penjual (produsen) memproduksi barangnya.[2]

    1. MANFAAT SALAM

    Manfaat bai’as-salam adalah selisih harga yang didapat dari nasabah dengan harga jual kepada pembeli.[3]

    Adapun manfaat lain bagi bank sebagai berikut.

    • sebagai salah satu bentuk penyaluran dana dalam rangka memperoleh barang tertentu sesuai kebutuhan nasabah akhir.
    • memperoleh peluang untuk mendapatkan keuntungan apabila harga pasar barang tersebut pada saat diserahkan ke bank lebih tinggi daripada jumlah pembiayaan yang diberikan.
    • memperoleh pendapatan dalam bentuk margin atas transaksi pembayaran barang ketika diserahkan kepada nasabah akhir.[4]
    1. LANDASAN HUKUM SALAM
      1. Al-Qur’an

    “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermuamalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya…”(QS.Al-Baqarah : 282)

    Dalam kaitan ayat tersebut, Ibnu Abbas menjelaskan keterkaitan ayat tersebut dengan transaksi bai’ as-salam. Hal ini tampak jelas dari ungkapan beliau, “Saya bersaksi bahwa salaf (salam) yang dijamin untuk jangka waktu tertentu telah dihalalkan oleh Allah pada kitab-Nya dan diizinkan-Nya.” Ia lalu membaca ayat diatas.

    1. Al-Hadits

    Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. datang ke Madinah dimana penduduknya melakukan salaf (salam) dalam buah-buahan (untuk jangka waktu) satu, dua, tiga tahun. Beliau berkata,

    “Barangsiapa yang melakukan salaf (salam), hendaknya ia melakukan dengan takaran yang jelas dan timbangan yang jelas pula, untuk jangka waktu yang diketahui.”

    Dari Shuhaib r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda,

    “Tiga hal yang di dalamnya terdapat keberkahan : jual beli secara tangguh, muqaradhah (mudharabah), dan mencampur gandum dengan tepung untuk keperluan rumah, bukan untuk dijual.” (HR Ibnu Majah)

    1. Peraturan Bank Indonesia Nomor 9/19/PBI/2007
    2. Fatwa DSN MUI No.05/DSN-MUI/IV/2000 Tentang Jual Beli Salam[5]
    3. IMPLEMENTASI AKAD SALAM PADA BANK SYARIAH

    Bai’ as-salam biasanya dipergunakan pada pembiayaan bagi petani dengan jangka waktu yang relatif pendek, yaitu 2-6 bulan. Karena yang dibeli oleh bank adalah barang seperti padi, jagung, dan cabai, dan bank tidak berniat untuk menjadikan barang-barang tersebut sebagai simpanan atau inventory, dilakukanlah akad bai’ salam kepada pembeli kedua, misalnya kepada Bulog, pedagang pasar induk, atau grosir. Inilah yang dalam perbankan Islam dikenal dengan salam paralel.

    Bai’as-salam juga dapat diaplikasikan pada pembiayaan barang industri, mislnya produk garmen (pakaian jadi) yang ukuran barang tersebut sudah dikenal umum. Caranya, saat nasabah mengajukan pembiayaan untuk pembuatan garmen, bank mereferensikan penggunaan produk tersebut. Hal ini berarti bahwa bank memesan dari pembuat garmen tersebut dan membayarnya pada waktu pengikatan kontrak. Bank kemudian mencari pembeli kedua. Pembeli tersebut bisa saja rekanan yang direkomendasikan oleh produsen garmen tersebut.bila garmen itu telah selesai diproduksi, produk tersebut diantarkan pada rekanan tersebut. Rekanan kemudian membayar kepada bank, baik secara mengangsur maupun tunai.[6]

    1. HASIL SURVEY

    Berdasarkan hasil survey yang dilakukan di beberapa Bank Syariah yaitu BNI Syariah, Bank Syariah Mandiri, BRI Syariah, Bank Muamalat, Bank Mega Syariah, di beberapa Bank Pembiayaan Rakyat Syariah yaitu BPRS Hidayah, BPRS Cempaka Al-Amin, BPRS Assalam dan juga di BMT Cipta Sejahtera ternyata belum terdapat produk pembiayaan berbasis akad salam. Hampir semua produk pembiayaan menggunakan akad murabahah, mudharabah, musyarakah, dan ijarah. Hal ini disebabkan karena kurangnya minat dari masyarakat akan salam. Dan juga kurangnya edukasi dan sosialisasi tentang salam. Kesulitan yang dihadapi bank untuk terjun langsung atau menyediakan inventaris untuk  mengelola barang pesanan secara profesional juga menjadi salah satu penghambat adanya produk salam.

    1. ANALISA SWOT
    • KEKUATAN YANG DIMILIKI
    1. Skema yang mensyaratkan kejelasan barang pesanan sehingga tidak akan terjadi jual beli ijon
    2. Dengan adanya inovasi produk salam, menawarkan berbagai kemudahan bagi nasabah sebagai pembeli untuk mendapatkan barang pesanan yang diinginkan
    3. Memudahkan para porodusen (supplier) untuk memproduksi barang pesanan dengan sistem pembayaran dimuka
    4. Dapat memberdayakan para produsen kecil yang kekurangan modal agar dapat tetap berproduksi
    5. Mendapatkan keuntungan besar bila suatu saat harga pasar dari barang pesanan lebih tinggi dibandingkan harga pesanan atau sebagai antisipasi fluktuasi harga barang pesanan
    • KENDALA YANG DIHADAPI
    1. Kurangnya sosialisasi dan edukasi terhadap masyarakat
    2. Kurangnya minat masyarakat akan produk salam
    3. Kesulitan Bank untuk terjun langsung atau menyediakan inventaris untuk mengelola barang pesanan secara profesional
    4. Terdapat resiko pembiayaan (credit risk) yang disebabkan oleh nasabah/supplier  wanprestasi atau default (kelalaian)
    5. Resiko kerugian akibat fluktuasi harga barang pesanan
    • PELUANG YANG DIMILIKI
    1. Telah disahkannya UU Perbankan Syariah yang memudahkan pengembangan produk-produk syariah, termasuk salam
    2. Mayoritas penduduk Indonesia muslim
    1. KESIMPULAN

    Berdasarkan pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa dalam realitanya aplikasi akad salam ke dalam bentuk produk pembiayaan belum dilakukan. Sebagian besar bank-bank syariah saat ini lebih memilih untuk menggunakan akad murabahah, mudharabah, musyarakah, dan ijarah di dalam produk pembiayaan mereka. Selain memang minat masyarakat yang kurang atas produk salam kurangnya edukasi dan sosialisasi juga bisa menjadi salah satu penyebab minimnya produk salam. Kesulitan yang dihadapi bank untuk terjun langsung atau menyediakan inventaris untuk mengelola barang pesanan secara profesional, serta resiko kerugian akibat fluktuasi harga juga menjadi salah satu penghambat adanya produk salam.

    DAFTAR PUSTAKA

    Muhammad, Rifqi. 2008. Akuntansi Keuangan Syariah, Konsep dan Implementasi PSAK Syariah. Jogjakarta : P3EI Press.

    UU Nomor 21 Tahun 2008 Tentang Perbankan Syariah

    Aplikasi Pembiayaan Salam Di Perbankan Syariah oleh Drs. H. Abd. Salam,  SH. MH. Hum (Hakim Pengadilan Agama Jember).

    Syafi’i Antonio, Muhammad. 2001. Bank Syariah : Dari Teori Ke Praktik. Jakarta : Gema Insani.


    [1]Muhammad Syafi’I Antonio. 2001. Bank Syariah : Dari Teori Ke Praktik. Jakarta : Gema Insani. hlm110-111.

    [2]Muhammad, Rifqi. 2008. Akuntansi Keuangan Syariah, Konsep dan Implementasi PSAK Syariah. Jogjakarta : P3EI Press. hlm 206

    [3] Muhammad Syafi’I Antonio. 2001. Bank Syariah : Dari Teori Ke Praktik. Jakarta : Gema Insani. hlm 112

    [4] http://www.scribd.com/doc/17233129/Produk-Bank-Syariah-

    [5] Muhammad Syafi’I Antonio. 2001. Bank Syariah : Dari Teori Ke Praktik. Jakarta : Gema Insani. hlm 108.

    [6] ibid, hlm 111.