blog ekonomi syariah zakat wakaf kawafi
RSS icon Email icon Home icon
  • SALAM

    Posted on Oktober 9th, 2011 farhan No comments

    PRODUK PERBANKAN SYARIAH

    “SALAM”

    DISUSUN OLEH :

    ANNEKE PUTRI MEILASARI (109046100184)

    FARHAN RABBANI (109046100162)

    KURNIA RATRI CAHYANI (109046100174)

    PERBANKAN SYARIAH 5E

    FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM

    UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

    KATA PENGANTAR

    Alhamdulillah, puji dan syukur kehadirat Allah SWT karena atas berkat dan rahmatnya makalah ini dapat terselesaikan dengan baik. Salam dan shalawat tak lupa kami haturkan kepada junjungan nabi Besar Muhammad SAW.

    Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas dari Bapak Riawan Amin dan Bapak Hendra Khalid selaku Dosen dari Mata Produk Perbankan Syariah.

    Terima kasih kami haturkan sedalam-dalamnya kepada semua pihak yang telah membantu terselenggarakannya makalah ini. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi semua orang.

    Tangerang Selatan, Oktober 2011

    Penulis

    1. PENGERTIAN SALAM

    Menurut UU Nomor 21 Tahun 2008 Tentang Perbankan Syariah yang dimaksud dengan akad salam adalah akad pembiayaan suatu barang dengan cara pemesanan dan pembayaran harga yang dilakukan terlebih dahulu dengan syarat tertentu yang disepakati.

    Salam Paralel berarti melaksanakan dua transaksi bai’ as-salam antara bank dan nasabah, dan antara bank dan pemasok (suplier) atau pihak ketiga lainnya secara simultan.

    Banyak orang yang menyamakan ba’i as-salam dengan ijon, padahal terdapat perbedaan besar diantara keduanya. Dalam ijon barang yang dibeli tidak diukur atau ditimbang secara jelas dan spesifik. Demikian juga penetapan harga beli, sangat bergantung kepada keputusan sepihak si tengkulak yang sering kali sangat dominan dan menekan petani yang posisinya lebih lemah.

    Adapun transaksi ba’i as-salam mengharuskan adanya dua hal berikut.

    1. Pengukuran dan spesifikasi barang yang jelas.
    2. Adanya keridhaan yang utuh antara kedua belah pihak.[1]
    3. TUJUAN SALAM

    Transaksi salam dilakukan karena pembeli berniat memberikan modal kerja terlebih dahulu untuk memungkinkan penjual (produsen) memproduksi barangnya.[2]

    1. MANFAAT SALAM

    Manfaat bai’as-salam adalah selisih harga yang didapat dari nasabah dengan harga jual kepada pembeli.[3]

    Adapun manfaat lain bagi bank sebagai berikut.

    • sebagai salah satu bentuk penyaluran dana dalam rangka memperoleh barang tertentu sesuai kebutuhan nasabah akhir.
    • memperoleh peluang untuk mendapatkan keuntungan apabila harga pasar barang tersebut pada saat diserahkan ke bank lebih tinggi daripada jumlah pembiayaan yang diberikan.
    • memperoleh pendapatan dalam bentuk margin atas transaksi pembayaran barang ketika diserahkan kepada nasabah akhir.[4]
    1. LANDASAN HUKUM SALAM
      1. Al-Qur’an

    “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermuamalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya…”(QS.Al-Baqarah : 282)

    Dalam kaitan ayat tersebut, Ibnu Abbas menjelaskan keterkaitan ayat tersebut dengan transaksi bai’ as-salam. Hal ini tampak jelas dari ungkapan beliau, “Saya bersaksi bahwa salaf (salam) yang dijamin untuk jangka waktu tertentu telah dihalalkan oleh Allah pada kitab-Nya dan diizinkan-Nya.” Ia lalu membaca ayat diatas.

    1. Al-Hadits

    Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. datang ke Madinah dimana penduduknya melakukan salaf (salam) dalam buah-buahan (untuk jangka waktu) satu, dua, tiga tahun. Beliau berkata,

    “Barangsiapa yang melakukan salaf (salam), hendaknya ia melakukan dengan takaran yang jelas dan timbangan yang jelas pula, untuk jangka waktu yang diketahui.”

    Dari Shuhaib r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda,

    “Tiga hal yang di dalamnya terdapat keberkahan : jual beli secara tangguh, muqaradhah (mudharabah), dan mencampur gandum dengan tepung untuk keperluan rumah, bukan untuk dijual.” (HR Ibnu Majah)

    1. Peraturan Bank Indonesia Nomor 9/19/PBI/2007
    2. Fatwa DSN MUI No.05/DSN-MUI/IV/2000 Tentang Jual Beli Salam[5]
    3. IMPLEMENTASI AKAD SALAM PADA BANK SYARIAH

    Bai’ as-salam biasanya dipergunakan pada pembiayaan bagi petani dengan jangka waktu yang relatif pendek, yaitu 2-6 bulan. Karena yang dibeli oleh bank adalah barang seperti padi, jagung, dan cabai, dan bank tidak berniat untuk menjadikan barang-barang tersebut sebagai simpanan atau inventory, dilakukanlah akad bai’ salam kepada pembeli kedua, misalnya kepada Bulog, pedagang pasar induk, atau grosir. Inilah yang dalam perbankan Islam dikenal dengan salam paralel.

    Bai’as-salam juga dapat diaplikasikan pada pembiayaan barang industri, mislnya produk garmen (pakaian jadi) yang ukuran barang tersebut sudah dikenal umum. Caranya, saat nasabah mengajukan pembiayaan untuk pembuatan garmen, bank mereferensikan penggunaan produk tersebut. Hal ini berarti bahwa bank memesan dari pembuat garmen tersebut dan membayarnya pada waktu pengikatan kontrak. Bank kemudian mencari pembeli kedua. Pembeli tersebut bisa saja rekanan yang direkomendasikan oleh produsen garmen tersebut.bila garmen itu telah selesai diproduksi, produk tersebut diantarkan pada rekanan tersebut. Rekanan kemudian membayar kepada bank, baik secara mengangsur maupun tunai.[6]

    1. HASIL SURVEY

    Berdasarkan hasil survey yang dilakukan di beberapa Bank Syariah yaitu BNI Syariah, Bank Syariah Mandiri, BRI Syariah, Bank Muamalat, Bank Mega Syariah, di beberapa Bank Pembiayaan Rakyat Syariah yaitu BPRS Hidayah, BPRS Cempaka Al-Amin, BPRS Assalam dan juga di BMT Cipta Sejahtera ternyata belum terdapat produk pembiayaan berbasis akad salam. Hampir semua produk pembiayaan menggunakan akad murabahah, mudharabah, musyarakah, dan ijarah. Hal ini disebabkan karena kurangnya minat dari masyarakat akan salam. Dan juga kurangnya edukasi dan sosialisasi tentang salam. Kesulitan yang dihadapi bank untuk terjun langsung atau menyediakan inventaris untuk  mengelola barang pesanan secara profesional juga menjadi salah satu penghambat adanya produk salam.

    1. ANALISA SWOT
    • KEKUATAN YANG DIMILIKI
    1. Skema yang mensyaratkan kejelasan barang pesanan sehingga tidak akan terjadi jual beli ijon
    2. Dengan adanya inovasi produk salam, menawarkan berbagai kemudahan bagi nasabah sebagai pembeli untuk mendapatkan barang pesanan yang diinginkan
    3. Memudahkan para porodusen (supplier) untuk memproduksi barang pesanan dengan sistem pembayaran dimuka
    4. Dapat memberdayakan para produsen kecil yang kekurangan modal agar dapat tetap berproduksi
    5. Mendapatkan keuntungan besar bila suatu saat harga pasar dari barang pesanan lebih tinggi dibandingkan harga pesanan atau sebagai antisipasi fluktuasi harga barang pesanan
    • KENDALA YANG DIHADAPI
    1. Kurangnya sosialisasi dan edukasi terhadap masyarakat
    2. Kurangnya minat masyarakat akan produk salam
    3. Kesulitan Bank untuk terjun langsung atau menyediakan inventaris untuk mengelola barang pesanan secara profesional
    4. Terdapat resiko pembiayaan (credit risk) yang disebabkan oleh nasabah/supplier  wanprestasi atau default (kelalaian)
    5. Resiko kerugian akibat fluktuasi harga barang pesanan
    • PELUANG YANG DIMILIKI
    1. Telah disahkannya UU Perbankan Syariah yang memudahkan pengembangan produk-produk syariah, termasuk salam
    2. Mayoritas penduduk Indonesia muslim
    1. KESIMPULAN

    Berdasarkan pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa dalam realitanya aplikasi akad salam ke dalam bentuk produk pembiayaan belum dilakukan. Sebagian besar bank-bank syariah saat ini lebih memilih untuk menggunakan akad murabahah, mudharabah, musyarakah, dan ijarah di dalam produk pembiayaan mereka. Selain memang minat masyarakat yang kurang atas produk salam kurangnya edukasi dan sosialisasi juga bisa menjadi salah satu penyebab minimnya produk salam. Kesulitan yang dihadapi bank untuk terjun langsung atau menyediakan inventaris untuk mengelola barang pesanan secara profesional, serta resiko kerugian akibat fluktuasi harga juga menjadi salah satu penghambat adanya produk salam.

    DAFTAR PUSTAKA

    Muhammad, Rifqi. 2008. Akuntansi Keuangan Syariah, Konsep dan Implementasi PSAK Syariah. Jogjakarta : P3EI Press.

    UU Nomor 21 Tahun 2008 Tentang Perbankan Syariah

    Aplikasi Pembiayaan Salam Di Perbankan Syariah oleh Drs. H. Abd. Salam,  SH. MH. Hum (Hakim Pengadilan Agama Jember).

    Syafi’i Antonio, Muhammad. 2001. Bank Syariah : Dari Teori Ke Praktik. Jakarta : Gema Insani.


    [1]Muhammad Syafi’I Antonio. 2001. Bank Syariah : Dari Teori Ke Praktik. Jakarta : Gema Insani. hlm110-111.

    [2]Muhammad, Rifqi. 2008. Akuntansi Keuangan Syariah, Konsep dan Implementasi PSAK Syariah. Jogjakarta : P3EI Press. hlm 206

    [3] Muhammad Syafi’I Antonio. 2001. Bank Syariah : Dari Teori Ke Praktik. Jakarta : Gema Insani. hlm 112

    [4] http://www.scribd.com/doc/17233129/Produk-Bank-Syariah-

    [5] Muhammad Syafi’I Antonio. 2001. Bank Syariah : Dari Teori Ke Praktik. Jakarta : Gema Insani. hlm 108.

    [6] ibid, hlm 111.

    Leave a reply